BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan negara kelautan yang kaya akan sumberdaya lautnya dan menjadi salah
satu negara pengekspor hasil perikanan dan laut terbesar di dunia. Perikanan
memiliki kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) bidang perikanan
mengalami peningkatan sebesar 22,86 persen, yaitu dari Rp 56,36 triliun pada
tahun 2005 menjadi Rp 72,97 triliun pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menjadi
Rp 93,22 triliun. (Yulianti, 2009).
Fisiologi merupakan ilmu yang
menganalisis fungsi sistim organ dalam mahluk hidup. Dalam mempelajari mekanisme
dan fungsi fisiologik, pendekatan dilakukan melalui sintesa ilmu fisika, kimia,
biokimia dalam biologi. Kemajuan dalam bidang ilmu dasar pendukung tersebut telah
banyak membantu dalam kajian kuantitatif fisiologi. yang banyak menjadi dasar
teori di bidang peraktek medis kedokteran. Fisiologi hewan lebih spesifik
mengelaborasi fungsi biokimia mahluk hidup. Proses yang terintegrasi dalam
sistem organ melibatkan proses dan mekanisme fisik dan biokimia (Siregar,
2010).
Ikan
patin (Pangasius
hypophthalmus) merupakan
salah satu komoditas yang sukses
dibudidayakan, baik pembenihan maupun pembesaran. Sejak krisis monenter dengan nilai dolar yang
meninggi dan berfluktuasi, di pembenihan ikan patin dilakukan upaya mengurangi
pemberian Artemia yang merupakan barang impor, dan menggantikannya
dengan cacing yang merupakan barang lokal. Hal tersebut dilakukan dengan
mempersingkat pemberian Artemia dan memberi lebih awal cacing bagi larva. Artemia
mengandung enzim (exogenous enzymes) yang dapat membantu larva
mencernanya dan cacing mungkin tidak. Enzim pencernaan larva ikan patin mungkin
belum siap untuk mencerna cacing karena saluran pencernaan masih sangat
sederhana dan produksi enzim pun
sangat rendah, sehingga mengurangi kemampuan cerna dan akhirnya mempengaruhi
kualitas benih yang dihasilkan. Kualitas pakan bisa mempengaruhi metamorfosis,
perkembangan awal dan viabilitas larva (Effendi, dkk., 2003).
Manajemen pakan ikan merupakan salah
satu faktor menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan. Pakan merupakan unsur
terpenting dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pakan
buatan adalah pakan yang sengaja dibuat dari beberapa jenis bahan baku. Pakan
buatan yang baik adalah pakan yang mengandung gizi yang penting untuk ikan,
memiliki rasa yang disukai oleh ikan dan mudah dicerna oleh ikan. Pakan berenergi
adalah pakan yang mengandung energi yang tinggi. Ikan menggunakan protein
sebagai sumber energi yang utama, sumber energi kedua yang digunakan adalah
lemak sedangkan karbohidrat menjadi sumber energi yang ketiga (Sari, dkk., 2009).
Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting
dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan
berkembang sesuai dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah
pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak
serta vitamin dan mineral. Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton,
zooplankton, maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput,
jentik-jentik nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan
ikan. Namun, ikan juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang mengandung
protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%.. Perlu pula
ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daundaunan/ sayuran yang
duris-iris. Boleh juga diberi makan tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla).
Banyaknya pelet sebagai pakaninduk kira-kira 3% berat biomassa per hari
(Irawan, dkk., 2009).
1.2
Tujuan
Praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah untuk melihat laju digesti atau pengosongan lambung ikan,
dapat mengetahui bentuk lambung yang kosong dan berisi pakan, dan dapat
menghitung laju pengosongan lambung ikan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Laju
Digesti
Laju pengosongan lambung dapat
didefinisikan sebagai laju dari sejumlah pakan yang bergerak melwati saluran
pencernaan per-satuan waktu tertentu, yang dinyatakan sebagai g/jam atau mg/menit.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju pengosongan lambung yaitu suhu air, ukuran
tubuh, jumlah pakan yang tersedia, frekuensi makan, ukuran partikel pakan,
kandungan energi pakan, konsentrasi lemak pakan, pergerakan fraksipakan
tercerna dan tidak tercerna, pemuasaan dan pemaksaan pakan. Nafsu makan
berhubungan erat dengan kepenuhan lambung dan laju pengosongan lambung yang
akan menentukan jumlah pakan yang dikonsumsi. Pemberian pakan yang berlebihan
akan mengakibatkan adanya sisa pakan yang tidak termakan sehingga dapat
menurunkan kualitas air media pemeliharaan, sehingga berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup dan produksi ikan yang dibudidayakan (Haetami, dkk.,
2007).
2.2
Klasifikasi Ikan Patin
Ikan patin
dulunya adalah nama lokal untuk ikan asli Indonesia yang memiliki nama ilmiah Pangasius pangasius. Namun, saat ini nama patin secara umum dipakai untuk memberi nama sebagian
besar ikan keluarga Pangasiidae. Untuk
Pangasius sutchi diberi nama patin siam dan untuk Pangasius djambal di beri nama patin djambal. Bleeker (1846)
mengklasifiksikan ikan patin sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo
: Siluriformes
Famili : Pangasiidae
Genus : Pangasius
Species
: Pangasius sp. (Yuliarti,
2001).
2.3
Morfologi Ikan Patin
Ikan
patin berbadan panjang dan pipih, mulut subterminal (agak disebelah bawah)
dengan empat kumis, sirip punggung mempunyai duri yang bergerigi, bersirip
tambahan (adifose fin), terdapat garis lengkung mulai dari kepala sampai
pangkal ekor, sirip ekor bercagak dengan tepi berwarna putih, warna badan
kelabu kehitaman. Sirip anal putih dengan garis hitam di tengah pada sirip dada
dan punggung terdapat patil yang kuat dan tajam (Fachrurrozi, 2010).
Tubuh ikan patin
secara morfologi dapat dibedakan yaitu bagian kepala dan badan. Bagian kepala
terdiri dari : Rasio panjang standar/panjang
kepala 4,12 cm, kepala relatif panjang, melebar kearah punggung, Mata berukuran
sedang pada sisi kepala, Lubang hidung relatif membesar, Mulut subterminal
relatif kecil dan melebar ke samping, Gigi tajam dan sungut mencapai belakang
mata, dan jarak antara ujung moncong dengan tepi mata lebih panjang. Sedangkan
bagian badan terdiri dari : Rasio panjang standar/tinggi badan 3,0 cm, Tubuh
relatif memanjang, Warna punggung kebiru-biruan, pucat pada bagian perut dan
sirip transparan, Perut lebih lebar dibandingkan panjang kepala, dan Jarak
sirip perut ke ujung moncong relatif panjang. Ikan patin memiliki badan memanjang
berwarna putih seperti perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya
bisa mencapai 120 cm, suatu ukuran yang cukup besar untuk ukuran ikan air tawar
domestik. Kepala patin relatif kecil
dengan mulut terletak diujung kepala agak disebelah bawah. Hal ini merupakan ciri khas golongan catfish. Pada
sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis
pendek yang berfungsi sebagai peraba. Sirip punggung memiliki sebuah jari-jari
keras yang berubah menjadi patil yang bergerigi
dan besar di sebelah belakangnya. Sementara itu, jari-jari lunak sirip punggung terdapat enam atau tujuh buah.
Pada punggungnya terdapat sirip lemak yang berukuran kecil sekali. Adapun sirip
ekornya membentuk cagak dan bentuknya
simetris. Sirip duburnya panjang, terdiri dari 30-33 jari-jari lunak, sedangkan sirip perutnya memiliki enam jari-jari
lunak. Sirip dada memiliki 12-13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras
yang berubah menjadi senjata yang dikenal
sebagai patil (Yuliartati, 2011).
2.4
Pakan Ikan
Daya cerna didefinisikan sebagai bagian
pakan yang diserap oleh hewan. Pengetahuan tentang kemampuan cerna bahan pakan sangat
diperlukan dalam mempelajari kebutuhan energi ikan dan penilaian dari berbagai
bahan pakan yang berbeda. Selama pakan berada dalam usus ikan, nutrient yang
dicerna oleh berbagai enzim menjadi bentuk yang dapat diserap oleh dinding usus
dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Kemampuan cerna ikan terhadap bahan
baku pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, sifat kimia air, suhu air,
jenis pakan, ukuran, umur ikan, kandungan gizi pakan, frekuensi pemberian
pakan, sifat fisika dan kimia pakan serta jumlah dan macam enzim pencernaan
yang terdapat dalam saluran pencernaan pakan (Fitriliyani, 2011).
Pakan memegang
peranan penting dalam kegiatan budidaya ikan. Kebutuhan pakan selama budidaya
dapat mencapai sekitar 60-70% dari biaya operasional budidaya. Pakan yang
diberikan pada ikan dinilai baik tidak hanya dari komponen penyusun pakan
tersebut melainkan juga dari seberapa besar komponen yang terkandung dalam
pakan mampu diserap dan dimanfaatkan oleh ikan dalam kehidupannya sehingga
pakan yang diproduksi dengan harga mahal pun belum tentu memiliki kualitas yang
baik oleh karena itu, perlu dicari alternatif bahan pakan yang dapat membantu
dalam proses pencernaan pakan. Salah satu bahan pakan yang dapat digunakan
adalah serat kasar (Megawati, dkk.,
2012).
Khusus untuk
ikan, pakan buatan yang diberikan dapat dikatagorikan menjadi :
1. Pakan
alami, merupakan kelompok pakan yang berasal dari hewan yang berukuran renik
sampai ukuran beberapa centimeter yang di kultur atau dikumpulkan dari alam; contohnya
adalah Artemia, Daphnia dan Cacing Sutra. Pakan alami ini dapat juga berasal
dari tumbuhan, misalnya fitoplankton dan daun talas.
2. Pakan
lembek, merupakan cincangan ikan-ikan rucah dan cumi-cumi yang langsung diberikan
kepada ikan. Daya tahan pakan lembek ini 2 – 3 hari dalam lemari pendingin.
3. Pakan
kering lengkap, merupakan pakan berbentuk pelet, “flake” dan “crumble” dengan
kadar air rendah sehingga daya tahannya bisa 3 – 4 bulan dan kandungan gizinya
cukup lengkap karena dibuat sesuai dengan kebutuhan (Masyamsir, 2001).
2.5 Makanan dan
Kebiasaan Makan Ikan
Ikan Patin
termasuk ikan yang beraktifitas pada malam hari atau nocturnal. Selain itu, patin suka bersembunyi
di dalam liang-liang di tepi sungai
habitat hidupnya. Ikan ini termasuk ikan demersal atau ikan dasar.
Secara fisik memang dari bentuk mulut yang
lebar persis seperti ikan domersal lain seperti
ikan lele dan ikan gabus. Habitatnya di sungai-sungai besar dan
muara-muara (Irawan, dkk., 2009).
Ikan patin mempunyai
sifat yang termasuk omnivora atau golongan ikan pemakan segala. Malam hari ia akan keluar dari
lubangnya dan mencari makanan renik yang terdiri atas cacing, serangga, udang
sungai, jenis–jenis siput dan
biji–bijian. Dari sifat makannya ikan ini juga tergolong ikan yang sangat rakus karena jumlah makannya yang besar.
Sedangkan untuk larva ikan patin yang
dipelihara pada kolam-kolam maupun akuarium dapat diberikan makanan alami seperti artemia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya (Yuliartati, 2011).
BAB
III
BAHAN
DAN METODE
3.1
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 02 April 2013 pada pukul 13.00 sampai
dengan selesai. Lokasi praktikum terletak di Laboratorium Terpadu Manajemen
Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
3.2.
Alat dan Bahan Praktikum
Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuarium kaca yang berfungsi
sebagai wadah untuk tempat ikan hidup, nampan/baki yang berguna untuk tempat
meletakan ikan yang akan dibedah, timbangan yang berguna untuk menimbang berat
ikan, kain lap yang berguna untuk membersihkan kotoran, kertas milimeter
laminating berfungsi untuk mengukur data ikan, alat bedah, dan alat tulis. Adapun
bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan patin (Pangasius sp.)
3.3
Prosedur Praktikum
1. Disiapkan
akuarium dan diisi air setinggi 25 cm dan diaerasi.
2. Ditimbang
berat ikan dan diukur panjangnya, disebarkan seragam pada akuarium dengan
kepadatan 4-5 ekor.
3. Diberi
pakan ikan sebanyak 2,5% dari berat total tubuh kemudian didiamkan untuk
mengkonsumsi pakan selama 25 menit.
4. Diambil
salah satu ikan kemudian dibedah lambungnya dan dihitung sebagai bobot lambung
dalam keadaan kosong.
5. Diambil
ikan setelah 25 menit diberi pakan kemudian ditimbang bobot lambungnya. Bobot
dinyatakan sebagai persentase bobot pada lambung waktu kenyang.
6. Dilakukan
lagi pada menit ke-50 pada saat lambung kenyang.
7. Dibuat
data morphometrik ikan dan tabel pengamatan laju digesti ikan dalam laporan
sementara berdasarkan data hasil pengamatan dan pencatatan.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Ikan Patin (Pangasius sp.)

Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Subkelas
: Teleostei
Ordo
: Ostariophysi
Famili : Sehilbeidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius sp.
Data Morphometrik
|
No.
|
Ikan
Patin (Pangasius sp.)
|
Panjang
Total
|
Berat
|
|
1
|
Pangasius
sp. A
|
21,1
cm
|
65
gram
|
|
2
|
Pangasius
sp. B
|
21
cm
|
70
gram
|
|
3
|
Pangasius
sp. C
|
18
cm
|
50
gram
|
|
4
|
Pangasius
sp. D
|
16
cm
|
50
gram
|
|
5
|
Pangasius
sp. E
|
14,1
cm
|
35
gram
|
Gambar lambung yang dipuasakan
Gambar lambung yang di beri pakan
![]() |
![]() |
Tabel pengamatan laju digesti ikan
|
Waktu (menit)
|
Ikan Patin (Pangasius sp.)
|
Panjang lambung
|
Berat lambung
|
|
0’
|
Pangasius
sp. A
|
3 cm
|
0,27 cm
|
|
30’
|
Pangasius
sp. B
|
4 cm
|
0,11 cm
|
|
Pangasius
sp. C
|
2,5 cm
|
0, 13 cm
|
|
|
60’
|
Pangasius
sp. D
|
2,7 cm
|
0,18 cm
|
|
Pangasius
sp. E
|
2 cm
|
0,07 cm
|
Jumlah pakan yang diberikan adalah = 70 gram + 50 gram + 50 gram + 35 gram
=
205 gram
Besar pakan =
2,5% x 205 gram : 3
=
1,708 gram
Tubifex = 1,708 gram
Kutu air (Dapnia
sp.) = 1,708 gram
Pelet terapung = 0,854 gram
Pelet tenggelam = 0,854 gram
4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah
dilakukan diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi laju digesti atau
pengosongan lambung ikan seperti suhu, jumlah pakan yang tersedia, kualitas
pakan yang dikonsumsi, nafsu makan, makanan dan kebiasaan makan ikan, waktu
siang dan malam. Hal ini sesuai dengan literatur Haetami, dkk (2007) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
laju pengosongan lambung yaitu suhu air, ukuran tubuh, jumlah pakan yang
tersedia, frekuensi makan, ukuran partikel pakan, kandungan energi pakan,
konsentrasi lemak pakan, pergerakan fraksipakan tercerna dan tidak tercerna,
pemuasaan dan pemaksaan pakan. Nafsu makan berhubungan erat dengan kepenuhan
lambung dan laju pengosongan lambung yang akan menentukan jumlah pakan yang
dikonsumsi. Pemberian pakan yang berlebihan akan mengakibatkan adanya sisa
pakan yang tidak termakan sehingga dapat menurunkan kualitas air media
pemeliharaan, sehingga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan produksi
ikan yang dibudidayakan.
Dari hasil
praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa berat masing-masing dari kelima
ikan patin (Pangasius sp.) yaitu 65 gram, 70 gram, 50 gram, 50 gram, dan 35
gram. Perhitungan berat ikan sangat berpengaruh pada besar pakan yang akan
diberikan. Berdasarkan hasil perhitungan didapat besar pakan yang akan
diberikan 2,5% dari berat total tubuh ikan yaitu 1,708 gram. Jumlah besar pakan
tersebut dibagi dengan keempat jenis pakan alami dan pakan buatan yaitu cacing
sutra, kutu air, pelet terapung, dan pelet tenggelam. Hal ini sesuai dengan
literatur Megawati, dkk (2012) yang menyatakan bahwa pakan memegang peranan
penting dalam kegiatan budidaya ikan. Kebutuhan pakan selama budidaya dapat mencapai
sekitar 60-70% dari biaya operasional budidaya. Pakan yang diberikan pada ikan dinilai
baik tidak hanya dari komponen penyusun pakan tersebut melainkan juga dari
seberapa besar komponen yang terkandung dalam pakan mampu diserap dan dimanfaatkan
oleh ikan dalam kehidupannya sehingga pakan yang diproduksi dengan harga mahal
pun belum tentu memiliki kualitas yang baik.
Dari hasil
praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan antara lambung ikan
yang dipuasakan dan lambung ikan yang diberi pakan. Dari hasil perhitungan
panjang lambung diketahui bahwa ikan patin yang dipuasakan lambungnya lebih
panjang daripada ikan patin yang sudah diberi pakan, tetapi pada perhitungan
berat lambung diketahui bahwa ikan patin yang sudah diberi pakan lambung nya
lebih berat dari pada ikan patin yang dipuasakan. Hal ini sesuai dengan
literatur Fitriliyani (2011) yang menyatakan bahwa daya cerna didefinisikan
sebagai bagian pakan yang diserap oleh hewan. Pengetahuan tentang kemampuan
cerna bahan pakan sangat diperlukan dalam mempelajari kebutuhan energi ikan dan
penilaian dari berbagai bahan pakan yang berbeda. Selama pakan berada dalam
usus ikan, nutrient yang dicerna oleh berbagai enzim menjadi bentuk yang dapat
diserap oleh dinding usus dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Kemampuan
cerna ikan terhadap bahan baku pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu,
sifat kimia air, suhu air, jenis pakan, ukuran, umur ikan, kandungan gizi
pakan, frekuensi pemberian pakan, sifat fisika dan kimia pakan serta jumlah dan
macam enzim pencernaan yang terdapat dalam saluran pencernaan pakan.
Dari hasil
praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa manajemen pakan ikan merupakan
salah satu faktor menentukan keberhasilan budidaya ikan. Dengan praktikum laju
digesti ikan dapat diketahui bentuk lambung yang kosong dan berisi pakan, dapat
menghitung laju pengosongan lambung ikan, dan melihat laju digesti. Karena
pakan merupakan unsur terpenting dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan
hidup ikan. Hal ini sesuai dengan literatur Irawan, dkk (2009) yang menyatakan
bahwa kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena
hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dergan
yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi
yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini
adalah:
1. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi laju digesti atau laju pengosongan lambung
adalah suhu, musim, waktu siang dan malam, intensitas cahaya, dan kualitas
pakan yang dikonsumsi.
2. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui laju digesti berhubungan dengan
laju metabolisme ikan sehingga semakin lama waktunya, maka isi lambung semakin
berkurang.
3. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui berat bobot lambung ikan menurun
dari waktu ke waktu walaupun masih ada penyimpanan pakan didalam lambung ikan.
4. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara lambung yang
dipuasakan dan lambung yang diberi pakan.
5. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui data morphometrik ikan dan tabel
laju digesti ikan.
5.2 Saran
Adapun saran
yang dapat diberikan berdasarkan praktikum yang telah dilakukan sebaiknya
praktikan menggunakan sarung tangan agar tangan tetap bersih pada saat
pembedahan ikan dan sebaiknya menggunakan ikan yang memiliki ukuran tubuh yang
sama agar dapat terlihat secara jelas laju digesti yang sebenarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, dkk. 2003.
Perkembangan Enzim Pencernaan
Larva Ikan Patin.
http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id
[07 April 2013].
Fachrurrozi. 2000. Pengaruh Perendaman Larva Ikan Patin Umur 7 Hari Dalam
Larutan
17α- Metiltestosteron Pada Suhu Berbeda
Terhadap Rasio
Jenis Kelamin,
Laju Pertumbuhan dan Kelangsungan
Hidup.
http://repository.ipb.ac.id [07
April 2013].
Fitriliyani, I. 2011. Aktifitas Enzim Saluran Pencernaan Ikan Nila
Dengan Pakan
Mengandung Tepung Daun Lamtoro Terhidrolisis dan Tanpa Hidrolisis
dengan Ekstrak Enzim Cairan
Rumen Domba.
http://fmipa.unlam.ac.id [07 April 2013].
Haetami, dkk. 2007. Kebutuhan dan Pola
Makan
Ikan Jambal Siam
Dari
Berbagai Tingkat Pemberian Energi Protein Pakan dan
Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan dan
Efisiensi.
http://pustaka.unpad.ac.id [07 April
2013].
Irawan, dkk. 2009. Faktor-Faktor Penting Dalam Proses Pembesaran Ikan di
Masyamsir, 2001. Membuat Pakan Ikan Buatan.
http:// psbtik.smkn1cms.net
[07 April 2013].
Megawati, dkk.
2012. Pemberian Pakan Dengan
Kadar Serat Kasar
Yang
Berbeda Terhadap Daya Cerna Pakan Pada Ikan Berlambung dan Ikan
Tidak Berlambung.
http://journal.unair.ac.id [07 April 2013].
Sari, dkk. 2009. Pemberian Pakan Dengan Energi Yang Berbeda
Terhadap
[07 April 2013].
Yulianti, E.
2009. Analisis Strategi Pengembangan Usaha Pembenihan Udang
Yuliartati, E. 2011. Tingkat Serangan Ektoparasit
Pada Ikan Patin Pada
Beberapa Pembudidaya
Ikan di Kota Makassar.


0 komentar:
Posting Komentar