Pages

Rabu, 10 April 2013

Laju Digesti Pada Ikan Patin (Pangasius pangasius)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kelautan yang kaya akan sumberdaya lautnya dan menjadi salah satu negara pengekspor hasil perikanan dan laut terbesar di dunia. Perikanan memiliki kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) bidang perikanan mengalami peningkatan sebesar 22,86 persen, yaitu dari Rp 56,36 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 72,97 triliun pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menjadi Rp 93,22 triliun. (Yulianti, 2009).
Fisiologi merupakan ilmu yang menganalisis fungsi sistim organ dalam mahluk hidup. Dalam mempelajari mekanisme dan fungsi fisiologik, pendekatan dilakukan melalui sintesa ilmu fisika, kimia, biokimia dalam biologi. Kemajuan dalam bidang ilmu dasar pendukung tersebut telah banyak membantu dalam kajian kuantitatif fisiologi. yang banyak menjadi dasar teori di bidang peraktek medis kedokteran. Fisiologi hewan lebih spesifik mengelaborasi fungsi biokimia mahluk hidup. Proses yang terintegrasi dalam sistem organ melibatkan proses dan mekanisme fisik dan biokimia (Siregar, 2010).
Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) merupakan salah satu komoditas yang sukses dibudidayakan, baik pembenihan maupun pembesaran. Sejak krisis monenter dengan nilai dolar yang meninggi dan berfluktuasi, di pembenihan ikan patin dilakukan upaya mengurangi pemberian Artemia yang merupakan barang impor, dan menggantikannya dengan cacing yang merupakan barang lokal. Hal tersebut dilakukan dengan mempersingkat pemberian Artemia dan memberi lebih awal cacing bagi larva. Artemia mengandung enzim (exogenous enzymes) yang dapat membantu larva mencernanya dan cacing mungkin tidak. Enzim pencernaan larva ikan patin mungkin belum siap untuk mencerna cacing karena saluran pencernaan masih sangat sederhana dan produksi enzim pun sangat rendah, sehingga mengurangi kemampuan cerna dan akhirnya mempengaruhi kualitas benih yang dihasilkan. Kualitas pakan bisa mempengaruhi metamorfosis, perkembangan awal dan viabilitas larva (Effendi, dkk., 2003). 
Manajemen pakan ikan merupakan salah satu faktor menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan. Pakan merupakan unsur terpenting dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pakan buatan adalah pakan yang sengaja dibuat dari beberapa jenis bahan baku. Pakan buatan yang baik adalah pakan yang mengandung gizi yang penting untuk ikan, memiliki rasa yang disukai oleh ikan dan mudah dicerna oleh ikan. Pakan berenergi adalah pakan yang mengandung energi yang tinggi. Ikan menggunakan protein sebagai sumber energi yang utama, sumber energi kedua yang digunakan adalah lemak sedangkan karbohidrat menjadi sumber energi yang ketiga (Sari, dkk., 2009).
Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral. Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan. Namun, ikan juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%.. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daundaunan/ sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet sebagai pakaninduk kira-kira 3% berat biomassa per hari (Irawan, dkk., 2009).

1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk melihat laju digesti atau pengosongan lambung ikan, dapat mengetahui bentuk lambung yang kosong dan berisi pakan, dan dapat menghitung laju pengosongan lambung ikan.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Laju Digesti
Laju pengosongan lambung dapat didefinisikan sebagai laju dari sejumlah pakan yang bergerak melwati saluran pencernaan per-satuan waktu tertentu, yang dinyatakan sebagai g/jam atau mg/menit. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju pengosongan lambung yaitu suhu air, ukuran tubuh, jumlah pakan yang tersedia, frekuensi makan, ukuran partikel pakan, kandungan energi pakan, konsentrasi lemak pakan, pergerakan fraksipakan tercerna dan tidak tercerna, pemuasaan dan pemaksaan pakan. Nafsu makan berhubungan erat dengan kepenuhan lambung dan laju pengosongan lambung yang akan menentukan jumlah pakan yang dikonsumsi. Pemberian pakan yang berlebihan akan mengakibatkan adanya sisa pakan yang tidak termakan sehingga dapat menurunkan kualitas air media pemeliharaan, sehingga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan produksi ikan yang dibudidayakan (Haetami, dkk., 2007).

2.2 Klasifikasi Ikan Patin
Ikan patin dulunya adalah nama lokal untuk ikan asli Indonesia yang  memiliki nama ilmiah Pangasius pangasius. Namun, saat ini nama patin secara  umum dipakai untuk memberi nama sebagian besar ikan keluarga Pangasiidae.  Untuk Pangasius sutchi diberi nama patin siam dan untuk Pangasius djambal di  beri nama patin djambal. Bleeker (1846) mengklasifiksikan ikan patin sebagai berikut :
Kingdom     : Animalia
  Filum           : Chordata
    Kelas           : Osteichthyes
      Subkelas     : Actinopterygii
        Ordo           : Siluriformes
          Famili       : Pangasiidae
            Genus       : Pangasius
               Species     : Pangasius sp. (Yuliarti, 2001).
2.3 Morfologi Ikan Patin
            Ikan patin berbadan panjang dan pipih, mulut subterminal (agak disebelah bawah) dengan empat kumis, sirip punggung mempunyai duri yang bergerigi, bersirip tambahan (adifose fin), terdapat garis lengkung mulai dari kepala sampai pangkal ekor, sirip ekor bercagak dengan tepi berwarna putih, warna badan kelabu kehitaman. Sirip anal putih dengan garis hitam di tengah pada sirip dada dan punggung terdapat patil yang kuat dan tajam (Fachrurrozi, 2010).
Tubuh ikan patin secara morfologi dapat dibedakan yaitu bagian kepala dan badan. Bagian kepala terdiri dari : Rasio  panjang standar/panjang kepala 4,12 cm, kepala relatif panjang, melebar kearah punggung, Mata berukuran sedang pada sisi kepala, Lubang hidung relatif membesar, Mulut subterminal relatif kecil dan melebar ke samping, Gigi tajam dan sungut mencapai belakang mata, dan jarak antara ujung moncong dengan tepi mata lebih panjang. Sedangkan bagian badan terdiri dari : Rasio panjang standar/tinggi badan 3,0 cm, Tubuh relatif memanjang, Warna punggung kebiru-biruan, pucat pada bagian perut dan sirip transparan, Perut lebih lebar dibandingkan panjang kepala, dan Jarak sirip perut ke ujung moncong relatif panjang. Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih seperti perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm, suatu ukuran yang cukup besar untuk ukuran ikan air tawar domestik. Kepala  patin relatif kecil dengan mulut terletak diujung kepala agak disebelah bawah. Hal  ini merupakan ciri khas golongan catfish. Pada sudut mulutnya terdapat dua  pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Sirip punggung memiliki sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil  yang bergerigi dan besar di sebelah belakangnya. Sementara itu, jari-jari lunak  sirip punggung terdapat enam atau tujuh buah. Pada punggungnya terdapat sirip lemak yang berukuran kecil sekali. Adapun sirip ekornya membentuk cagak dan  bentuknya simetris. Sirip duburnya panjang, terdiri dari 30-33 jari-jari lunak,  sedangkan sirip perutnya memiliki enam jari-jari lunak. Sirip dada memiliki 12-13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi senjata yang  dikenal sebagai patil (Yuliartati, 2011).


2.4 Pakan Ikan
Daya cerna didefinisikan sebagai bagian pakan yang diserap oleh hewan. Pengetahuan tentang kemampuan cerna bahan pakan sangat diperlukan dalam mempelajari kebutuhan energi ikan dan penilaian dari berbagai bahan pakan yang berbeda. Selama pakan berada dalam usus ikan, nutrient yang dicerna oleh berbagai enzim menjadi bentuk yang dapat diserap oleh dinding usus dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Kemampuan cerna ikan terhadap bahan baku pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, sifat kimia air, suhu air, jenis pakan, ukuran, umur ikan, kandungan gizi pakan, frekuensi pemberian pakan, sifat fisika dan kimia pakan serta jumlah dan macam enzim pencernaan yang terdapat dalam saluran pencernaan pakan (Fitriliyani, 2011).
Pakan memegang peranan penting dalam kegiatan budidaya ikan. Kebutuhan pakan selama budidaya dapat mencapai sekitar 60-70% dari biaya operasional budidaya. Pakan yang diberikan pada ikan dinilai baik tidak hanya dari komponen penyusun pakan tersebut melainkan juga dari seberapa besar komponen yang terkandung dalam pakan mampu diserap dan dimanfaatkan oleh ikan dalam kehidupannya sehingga pakan yang diproduksi dengan harga mahal pun belum tentu memiliki kualitas yang baik oleh karena itu, perlu dicari alternatif bahan pakan yang dapat membantu dalam proses pencernaan pakan. Salah satu bahan pakan yang dapat digunakan adalah serat kasar (Megawati, dkk., 2012).
Khusus untuk ikan, pakan buatan yang diberikan dapat dikatagorikan menjadi :
1.      Pakan alami, merupakan kelompok pakan yang berasal dari hewan yang berukuran renik sampai ukuran beberapa centimeter yang di kultur atau dikumpulkan dari alam; contohnya adalah Artemia, Daphnia dan Cacing Sutra. Pakan alami ini dapat juga berasal dari tumbuhan, misalnya fitoplankton dan daun talas.
2.      Pakan lembek, merupakan cincangan ikan-ikan rucah dan cumi-cumi yang langsung diberikan kepada ikan. Daya tahan pakan lembek ini 2 – 3 hari dalam lemari pendingin.
3.      Pakan kering lengkap, merupakan pakan berbentuk pelet, “flake” dan “crumble” dengan kadar air rendah sehingga daya tahannya bisa 3 – 4 bulan dan kandungan gizinya cukup lengkap karena dibuat sesuai dengan kebutuhan (Masyamsir, 2001).

2.5 Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan
Ikan Patin termasuk ikan yang beraktifitas pada malam hari atau  nocturnal. Selain itu, patin suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai  habitat hidupnya. Ikan ini termasuk ikan demersal atau ikan dasar. Secara fisik  memang dari bentuk mulut yang lebar persis seperti ikan domersal lain seperti  ikan lele dan ikan gabus. Habitatnya di sungai-sungai besar dan muara-muara (Irawan, dkk., 2009).
Ikan patin mempunyai sifat yang termasuk omnivora atau golongan ikan  pemakan segala. Malam hari ia akan keluar dari lubangnya dan mencari makanan renik yang terdiri atas cacing, serangga, udang sungai, jenis–jenis  siput dan biji–bijian. Dari sifat makannya ikan ini juga tergolong ikan yang sangat  rakus karena jumlah makannya yang besar. Sedangkan untuk larva ikan patin  yang dipelihara pada kolam-kolam maupun akuarium dapat diberikan makanan  alami seperti artemia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Yuliartati, 2011). 





BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 02 April 2013 pada pukul 13.00 sampai dengan selesai. Lokasi praktikum terletak di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

3.2. Alat dan Bahan Praktikum
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuarium kaca yang berfungsi sebagai wadah untuk tempat ikan hidup, nampan/baki yang berguna untuk tempat meletakan ikan yang akan dibedah, timbangan yang berguna untuk menimbang berat ikan, kain lap yang berguna untuk membersihkan kotoran, kertas milimeter laminating berfungsi untuk mengukur data ikan, alat bedah, dan alat tulis. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan patin (Pangasius sp.)

3.3 Prosedur Praktikum
1.      Disiapkan akuarium dan diisi air setinggi 25 cm dan diaerasi.
2.      Ditimbang berat ikan dan diukur panjangnya, disebarkan seragam pada akuarium dengan kepadatan 4-5 ekor.
3.      Diberi pakan ikan sebanyak 2,5% dari berat total tubuh kemudian didiamkan untuk mengkonsumsi pakan selama 25 menit.
4.      Diambil salah satu ikan kemudian dibedah lambungnya dan dihitung sebagai bobot lambung dalam keadaan kosong.
5.      Diambil ikan setelah 25 menit diberi pakan kemudian ditimbang bobot lambungnya. Bobot dinyatakan sebagai persentase bobot pada lambung waktu kenyang.
6.      Dilakukan lagi pada menit ke-50 pada saat lambung kenyang.
7.      Dibuat data morphometrik ikan dan tabel pengamatan laju digesti ikan dalam laporan sementara berdasarkan data hasil pengamatan dan pencatatan.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Ikan Patin (Pangasius sp.)
 








Gambar 1. Ikan Patin
Klasifikasi                              
Kingdom         : Animalia       
  Filum               : Chordata                            
   Kelas                : Pisces       
     Subkelas          : Teleostei
       Ordo                : Ostariophysi                  
         Famili              : Sehilbeidae                              
           Genus              : Pangasius                              
             Spesies           : Pangasius sp.                      
                                                                                           
Data Morphometrik
No.
Ikan Patin (Pangasius sp.)
Panjang Total
Berat
1
Pangasius sp. A
21,1 cm
65 gram
2
Pangasius sp. B
21 cm
70 gram
3
Pangasius sp. C
18 cm
50 gram
4
Pangasius sp. D
16 cm
50 gram
5
Pangasius sp. E
14,1 cm
35 gram

Gambar lambung yang dipuasakan                  Gambar lambung yang di beri pakan
 





       Gambar 2.                                                                      Gambar 3.
Tabel pengamatan laju digesti ikan
Waktu (menit)
Ikan Patin (Pangasius sp.)
Panjang lambung
Berat lambung
0’
Pangasius sp. A
3 cm
0,27 cm
30’
Pangasius sp. B
4 cm
0,11 cm
Pangasius sp. C
2,5 cm
0, 13 cm
60’
Pangasius sp. D
2,7 cm
0,18 cm
Pangasius sp. E
2 cm
0,07 cm

Jumlah pakan yang diberikan adalah = 70 gram + 50 gram + 50 gram + 35 gram
            = 205 gram
  Besar pakan   = 2,5% x 205 gram : 3
= 1,708 gram
Tubifex = 1,708 gram
Kutu air (Dapnia sp.) = 1,708 gram
Pelet terapung = 0,854 gram
Pelet tenggelam = 0,854 gram


4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi laju digesti atau pengosongan lambung ikan seperti suhu, jumlah pakan yang tersedia, kualitas pakan yang dikonsumsi, nafsu makan, makanan dan kebiasaan makan ikan, waktu siang dan malam. Hal ini sesuai dengan literatur Haetami, dkk (2007) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju pengosongan lambung yaitu suhu air, ukuran tubuh, jumlah pakan yang tersedia, frekuensi makan, ukuran partikel pakan, kandungan energi pakan, konsentrasi lemak pakan, pergerakan fraksipakan tercerna dan tidak tercerna, pemuasaan dan pemaksaan pakan. Nafsu makan berhubungan erat dengan kepenuhan lambung dan laju pengosongan lambung yang akan menentukan jumlah pakan yang dikonsumsi. Pemberian pakan yang berlebihan akan mengakibatkan adanya sisa pakan yang tidak termakan sehingga dapat menurunkan kualitas air media pemeliharaan, sehingga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan produksi ikan yang dibudidayakan.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa berat masing-masing dari kelima ikan patin (Pangasius sp.) yaitu 65 gram, 70 gram, 50 gram, 50 gram, dan 35 gram. Perhitungan berat ikan sangat berpengaruh pada besar pakan yang akan diberikan. Berdasarkan hasil perhitungan didapat besar pakan yang akan diberikan 2,5% dari berat total tubuh ikan yaitu 1,708 gram. Jumlah besar pakan tersebut dibagi dengan keempat jenis pakan alami dan pakan buatan yaitu cacing sutra, kutu air, pelet terapung, dan pelet tenggelam. Hal ini sesuai dengan literatur Megawati, dkk (2012) yang menyatakan bahwa pakan memegang peranan penting dalam kegiatan budidaya ikan. Kebutuhan pakan selama budidaya dapat mencapai sekitar 60-70% dari biaya operasional budidaya. Pakan yang diberikan pada ikan dinilai baik tidak hanya dari komponen penyusun pakan tersebut melainkan juga dari seberapa besar komponen yang terkandung dalam pakan mampu diserap dan dimanfaatkan oleh ikan dalam kehidupannya sehingga pakan yang diproduksi dengan harga mahal pun belum tentu memiliki kualitas yang baik.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan antara lambung ikan yang dipuasakan dan lambung ikan yang diberi pakan. Dari hasil perhitungan panjang lambung diketahui bahwa ikan patin yang dipuasakan lambungnya lebih panjang daripada ikan patin yang sudah diberi pakan, tetapi pada perhitungan berat lambung diketahui bahwa ikan patin yang sudah diberi pakan lambung nya lebih berat dari pada ikan patin yang dipuasakan. Hal ini sesuai dengan literatur Fitriliyani (2011) yang menyatakan bahwa daya cerna didefinisikan sebagai bagian pakan yang diserap oleh hewan. Pengetahuan tentang kemampuan cerna bahan pakan sangat diperlukan dalam mempelajari kebutuhan energi ikan dan penilaian dari berbagai bahan pakan yang berbeda. Selama pakan berada dalam usus ikan, nutrient yang dicerna oleh berbagai enzim menjadi bentuk yang dapat diserap oleh dinding usus dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Kemampuan cerna ikan terhadap bahan baku pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, sifat kimia air, suhu air, jenis pakan, ukuran, umur ikan, kandungan gizi pakan, frekuensi pemberian pakan, sifat fisika dan kimia pakan serta jumlah dan macam enzim pencernaan yang terdapat dalam saluran pencernaan pakan.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa manajemen pakan ikan merupakan salah satu faktor menentukan keberhasilan budidaya ikan. Dengan praktikum laju digesti ikan dapat diketahui bentuk lambung yang kosong dan berisi pakan, dapat menghitung laju pengosongan lambung ikan, dan melihat laju digesti. Karena pakan merupakan unsur terpenting dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Hal ini sesuai dengan literatur Irawan, dkk (2009) yang menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral.









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
            Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah:
1.      Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju digesti atau laju pengosongan lambung adalah suhu, musim, waktu siang dan malam, intensitas cahaya, dan kualitas pakan yang dikonsumsi.
2.      Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui laju digesti berhubungan dengan laju metabolisme ikan sehingga semakin lama waktunya, maka isi lambung semakin berkurang.
3.      Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui berat bobot lambung ikan menurun dari waktu ke waktu walaupun masih ada penyimpanan pakan didalam lambung ikan.
4.      Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara lambung yang dipuasakan dan lambung yang diberi pakan.
5.      Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui data morphometrik ikan dan tabel laju digesti ikan.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan praktikum yang telah dilakukan sebaiknya praktikan menggunakan sarung tangan agar tangan tetap bersih pada saat pembedahan ikan dan sebaiknya menggunakan ikan yang memiliki ukuran tubuh yang sama agar dapat terlihat secara jelas laju digesti yang sebenarnya.





DAFTAR PUSTAKA

Effendi,   dkk.   2003.  Perkembangan   Enzim   Pencernaan   Larva   Ikan   Patin.
http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id [07 April 2013].

Fachrurrozi. 2000. Pengaruh Perendaman Larva  Ikan  Patin Umur 7 Hari Dalam
Larutan   17α- Metiltestosteron  Pada  Suhu   Berbeda    Terhadap    Rasio
Jenis    Kelamin,     Laju    Pertumbuhan     dan     Kelangsungan     Hidup.
http://repository.ipb.ac.id [07 April 2013].

Fitriliyani, I. 2011. Aktifitas Enzim Saluran Pencernaan Ikan Nila Dengan  Pakan
Mengandung  Tepung   Daun Lamtoro Terhidrolisis dan  Tanpa Hidrolisis
dengan Ekstrak  Enzim  Cairan  Rumen Domba. http://fmipa.unlam.ac.id [07 April 2013].

Haetami, dkk. 2007. Kebutuhan   dan   Pola   Makan   Ikan   Jambal   Siam    Dari
Berbagai        Tingkat        Pemberian     Energi     Protein     Pakan     dan
Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi. http://pustaka.unpad.ac.id  [07 April 2013].

Irawan, dkk. 2009. Faktor-Faktor Penting  Dalam  Proses  Pembesaran   Ikan   di
Fasilitas Nursery dan Pembesaran. http://sith.itb.ac.id [07 April 2013].

Masyamsir, 2001.   Membuat   Pakan   Ikan   Buatan.  http:// psbtik.smkn1cms.net
[07 April 2013].

Megawati,  dkk.  2012.  Pemberian  Pakan   Dengan   Kadar   Serat  Kasar   Yang
Berbeda  Terhadap  Daya  Cerna  Pakan Pada Ikan Berlambung dan Ikan
Tidak Berlambung. http://journal.unair.ac.id [07 April 2013].

Sari, dkk.  2009.   Pemberian  Pakan   Dengan   Energi  Yang  Berbeda  Terhadap
Pertumbuhan      Benih    Ikan    Kerapu    Tikus.   http://journal.unair.ac.id
[07 April 2013].

Yulianti,   E.   2009.  Analisis Strategi Pengembangan Usaha Pembenihan Udang
Vaname. http://repository.ipb.ac.id [24 Maret 2013].

Yuliartati, E. 2011.  Tingkat    Serangan    Ektoparasit    Pada    Ikan   Patin Pada
Beberapa            Pembudidaya         Ikan          di        Kota        Makassar

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll