Pages

Kamis, 11 April 2013

Nutrisi Yang Dibutuhkan Oleh Ikan


MAKALAH BIOLOGI PERIKANAN

NUTRISI YANG DIBUTUHKAN OLEH IKAN

Oleh :
Kelompok VIII

                            Elvis Patric Presly                             110302020
                            Fery J. Sihotang                                  110302045
                            Rio Fentaria Sembiring                    110302048
                            Haswin Saragih                                   110302059
                            Dwy M. Banjarnahor                          110302067





MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013



KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan berkat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ‘Biologi Perikanan’ ini. Dalam makalah yang telah kami selesaikan dengan judul “Sumber Nutrisi Yang Dibutuhkan Ikan” merupakan landasan utama dalam membahas kandungan nutrisi apa saja yang diperlukan oleh ikan baik secara alami, buatan maupun tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam rangka memperdalam pemahaman tentang kandungan nutrisi ikan. Untuk  memenuhi  Sistem  Kredit  Semester (SKS), dan sebagai Strata I (S1).
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada           selaku dosen pengasuh mata kuliah Biologi Perikanan. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan saran dalam pembuatan makalah ini. Dan kami juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua atas doa dan kasih sayang.
Kami sadar bahwa dalam mengerjakan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan kedepan. Semoga makalah ini bisa bermanfaat khususnya bagi kita mahasiswa-mahasiswi Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Terima kasih.




       Medan,   Februari 2013



         Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                 i
DAFTAR ISI                                                                                                 ii
BAB I PENDAHULUAN
       1.1 Latar Belakang                                                                                   1
  1.2Tujuan                                                                                                 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pakan Alami                                                                                        2
2.1.1. Rotifera                                                                                     2
2.1.2. Moina                                                                                        3
2.1.3. Daphnia                                                                                     3
2.1.4. Cacing Tubifex/Sutra                                                                3
2.2 Pakan Buatan Yang Bersifat Nabati                                                   4
2.2.1. Jagung Kuning                                                                          4
2.2.2. Dedak Halus                                                                             5
2.2.3. Bungkil Kacang Kedelai                                                           5
2.2.4. Bungkil Kacang Tanah                                                             6
2.2.5. Minyak Nabati......................................................................... 6
2.2.6. Hijauan.................................................................................... 6
2.3 Pakan Buatan Yang Bersifat Hewani                                                 7
2.3.1. Tepung Ikan                                                                              7
2.3.2. Tepung Rebon dan Benawa                                                      7
2.3.3. Tepung Kepala Udang                                                              7
2.3.4. Tepung Darah                                                                           7
2.3.5. Silase Ikan                                                                                 8
2.3.6. Tepung Bulu Ayam dan Tepung Tulang                                   8
2.3.7. Tepung Bekicot                                                                         8
2.3.8. Tepung Cacing Tanah                                                               8
2.3.9. Limbah Unit Penetasan Ayam                                                  8
2.4  Kandungan Nutrisi Pada Pakan Ikan                                                 8
2.4.1. Protein dan Asam Amino                                                         8
2.4.2. Lemak                                                                                       10
2.4.3. Karbohidrat                                                                               11
2.4.4. Mineral                                                                                      11
2.4.5. Serat                                                                                          11
2.4.6. Vitamin                                                                                     12
BAB III PENUTUP..................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan                                                                                         13
DAFTAR PUSTAKA         







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Kebutuhan nutrisi ikan, seperti halnya manusia ikan memerlukan nutrisi yang baik agar bisa hidup dengan sehat. Oleh karena itu ikan perlu diberi makan dengan makanan yang mengandung kadar nutrisi yang memadai. Nutrisi yang harus ada pada ikan adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin.
Pakan memiliki peranan penting sebagai sumber energi untuk pemeliharaan tubuh, pertumbuhan dan perkembangbiakan. Oleh sebab itu nutrisi yang terkandung dalam pakan harus benar-benar terkontrol dan memenuhi kebutuhan dari ikan tersebut.
Pemberian pakan yang sesuai akan menghindarkan ikan dari berbagai serangan penyakit, kususnya penyakit nutrisi. Penyakit nutrisi ini biasanya menyerang ikan yang hanya diberi pakan sembarangan tanpa memperhitungkan nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan pemberian pakan dengan kadar lemak tinggi juga menyebabkan difisiensi thiamin (Vitamin). Jenis bahan baku yang harus disiapkan sangat bergantung kepada jenis ikan yang akan mengkonsumsi pakan tersebut dan stadia pemberian pakannya. Selain itu untuk mengetahui jenis-jenis bahan baku yang akan dipilih harus dilakukan perhitungan.
Perhitungan jumlah bahan baku yang akan digunakan untuk membuat pakan ikan tersebut dinamakan menyusun formulasi pakan. Setelah mengetahui tentang jenis-jenis bahan baku yang akan digunakan untuk membuat pakan, kandungan zat gizi dari bahan-bahan baku tersebut dan cara menyusun formulasi/ramuan pakan buatan barulah kita dapat membuat pakan buatan.

1.2 Tujuan
            1. Untuk mengetahui nutrisi apa saja yang ada di pakan ikan.
2. Untuk mengetahui kandungan nutrisi pakan baik dari tumbuhan maupun
    hewan.
3. Untuk mengetahui tumbuhan dan hewan apa saja yang dimakan ikan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pakan Alami
Pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam, diantaranya plankton, kutu air, cacing sutra, jentik nyamuk, dan jasad renik lainnya. Dengan pengemposan atau pemupukan air, pertumbuhan pakan alami dapat ditingkatkan. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing atau domba. Menurut penelitian, pertumbuhan lele bisa lebih cepat dengan pemberian pakan alami, hal ini dikarenakan pakan alami memiliki kandungan protein yang tinggi.  Adapun sumber-sumber pakan alami antara lain fitoplankton yang merupakan pakan alami yang bersifat nabati, Zooplankton, Moina, Dapnia, Tubifeks dan Artemia yang termasuk dalam pakan alami yang bersifat hewani dan pakan buatan.

2.1.1.      Rotifera
Kultur Rotifera dapat dilakuakn di bak beton atau bak tanah yang sumber airnya mengandung Rotifera. sebagai sumber air dapat menggunakan air sungai,air kolam,atau air yang diinokulasi dengan Rotifera. Air yang masuk ke dalam bak atau kolam harus di saring terlebih dahulu,terutama untuk menghindari adanya ikan atau serangga air yang dapat masuk ke dalam kolam atau bak. Bak atau kolam di keringkan terlebih dahulu selama 2-3 hari kemudian diisi air dan di lakukan pengapuran sebanyak 100 g/m2. Pengapuran ini bertujuan untuk memberantas ikan,predator,atau hama yang hidup di dalam bak atau kolam dan untuk menaikkan pH. Setelah itu dilakuakn pemupukan kotoran ayam kering sebanyak 1 kg/m2. Kemudian bak atau kolamdiisi air dengan kedalaman 0,5 m.permukaan air di semprot dengan Sumithion sebanyak 6-8 ppm untuk memberantas Cladocera agar tidak mengganggu pertumbuhan Rotifera. Panen Rotifera dapat di lakukan setelah 5-6 hari pemeliharaan dengan pengambilan contoh air dan di saring dengan plankton Net Muller No.25 Dengan cara tersebut dapat dilakukan panen Rotifera pada hari ke 5-12 dari saat setelah pemupukan berlangsung.

2.1.2.      Moina
Kultur moina sebaiknya dilakukan di wadah yang di letakkan di bawah atap yang transparan,misalnya atap plastik,untuk menghindari sinar matahari langsung dan curah hujan. Wadah atau tempat yang telah diisi air sumur dengan kedalaman 40-60 cm.di pupukdengan kotoran ayam kering (tanpa sekam)
Sebnyak 1 kg/m2.selain itu ,kedalam media kultur tersebut di gantungkan kantong terilin atau karung yang berisi bungkil kedelai sebanyak 200g/m3. Bibit Moina di tanam sehari setelah pemupukan awal sebanyak 2g/m3 Bibit Moina ditanam sehari setelah pemupukan awal sebanyak 2 g/m3.bibit moina dipilih yang berwarna merah dan Berukuran besar. Pemupukan ulang dilakukan 4 hari setelah pemupukan awal sebanyak 0,25 dosis atau 250 g kotoran ayam kering dan 50 g bungkil kedelai.Pemanenan dapat di lakukan antara 7-9 hari setelah pemupukan awal dwngan serokan dari kain terilin. Untuk mendapatkan Moina setiap hari dapat di pakai 6 wadah dengan pelaksanaan kultur secara bergilir, yaitu 2 hari sekali.dengan cara tersebut dapat menghasilkan Moina 150-400 g/m3/hari.

2.1.3.      Daphnia
Daphinia cepat di kultur di tempat trbuka. Untuk wadah kultur dapat digunakan bak atau konteiner. Bak atau konteiner diisi dengan air sumur lalu dipupuk dengan kotoran ayam kering tanpa sekam sebanyak 1,5 kg/m3. Kotoran ayam tersebut dimasukkan kedalam kantong terilin atau karung dan digantung dalm media kultur. Sehari setelah pemupukan awal, bibit daphnia ditebar sebanyak 5 g/m3. pamupukan ulang dilakukan antara 7-14 harisetelah pemupukan awalsebanyak 0,5 dosis (750 g/m3). Pemupukan dilakukan 21hari setelh pemupukan awal dan dilakukan setiap hari selama sebulan. Dalam sehari pemenenan dapat dihasilkan Daphnia sebanak 25 g/m3. Dengan cara ini dapat dihasilkan kira-kira 30 kg dalam kurun waktu sebulan.

2.1.4.      Cacing Tubifex/Sutra
Bentuk tubuh cacing ini menyerupai rambut dengan panjang badan antara 1-3cm dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas ruas. Cacing ini hidup dengan membentuk koloni di perairan jernih yang kaya bahan organik. Cacing ini meiliki 57% protein dan 13% lemak dalam tubuhnya. Cacing sutra merupakan hewan hermaprodit yang berkembang biak lewat telur secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah menjadi dua sebelum menetas. Bahan organik yang baik untuk digunakan oleh cacing sutra adalah campuran antara kotoran ayam, ampas tahu, dedak (bekatul) dan lumpur.

2.2      Pakan Buatan Yang Bersifat Nabati
2.2.1.      Jagung kuning
Selain jagung kuning, masih ada 2 warna lagi, pada jagung (Zea mays), yaitu jagung putih dan jagung merah. Diantara ketiga warna itu, jagung merah dan jagung putih jarang terlihat di Indonesia. Jagung kuning merupakan bahan baku ternah dan ikan yang populer digunakan di Indonesia dan di beberapa negara. Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan.
Kandungan nutrisi jagung :
  • Bahan kering : 75 – 90 %
  • Serat kasar : 2,0 %
  • Protein kasar : 8,9 %
  • Lemak kasar : 3,5 %
  • Energi gross : 3918 Kkal/kg
  • Niacin : 26,3 mg/kg
  • TDN : 82 %
  • Calcium : 0,02 %
  • Fosfor : 3000 IU/kg
  • Asam Pantotenat : 3,9 mg/kg
  • Riboflavin : 1,3 mg/kg
  • Tiamin : 3,6 mg/kg
dan asam lemak yang baik, jagung kuning tidak diragukan lagi. Asam linoleat jagung kuning sebesar 1,6%, tertinggi diantara kelompok biji-bijian.
2.2.2.      Dedak halus
Dedak merupakan limbah proses pengolahan gabah, dan tidak dikonsumsi manusia, sehingga tidak bersaing dalam penggunaannya. Dedak mengandung bagian luar beras yang tidak terbawa, tetapi tercampur pula dengan bagian penutup beras itu. Hal ini mempengaruhi tinggi-rendahnya kandungan serat kasar dedak.
Kandungan nutrisi dedak :
  • Bahan kering : 91,0 %
  • Protein kasar : 13,5 %
  • Lemak kasar : 0,6 %
  • Serat kasar : 13.0 %
  • Energi metabolis : 1890,0 kal/kg
  • Calcium : 0,1 %
  • Total Fosfor : 1,7 %
  • Asam Pantotenat : 22,0 mg/kg
  • Riboflavin : 3,0 mg/kg
  • Tiamin : 22,8 mg/kg
Kandungan serat kasar dedak 13,6%, atau 6 kali lebih besar dari pada jagung kuning, merupakan pembatas, sehingga dedak tidak dapat digunakan berlebihan.Kandungan asam amino dedak, walaupun lengkap tapi kuantitasnya tidak mencukupi kebutuhan ikan, demikian pula dengan vitamin dan mineralnya.

2.2.3.      Bungkil Kacang Kedelai
Selain sebagai bahan pembuat tempe dan tahu, kacang kedele mentah mengandung “penghambat trypsin” yang harus dihilangkan oleh pemanasan.
Kandungan nutrisi bungkil kacang kedelai :
  • Protein kasar : 42 – 50 %
  • Energi metabolis : 2825 - 2890 Kkal/kg
  • Serat kasar : 6 %
Yang menjadi faktor pembatas pada penggunaan kedelai ini adalah asam amino metionin.

2.2.4.      Bungkil Kacang Tanah
Merupakan limbah dari pengolahan minyak kacang atau olahan lainnya. Kualitas bungkil kacang tanah ini tergantung pada proses pengolahan kacang tanah menjadi minyak. Disamping itu, proses pemanasan selama pengolahan berlangsung, juga menentukan kualitas bungkil ini, selain dari kualitas tanah, pengolahan tanah dan varietas kacang itu sendiri.
Kandungan nutrisi bungkil kacang tanah :
  • Bahan kering : 91,5 %
  • Protein kasar : 47,0 %
  • Lemak kasar : 1,2 %
  • Serat kasar : 13,1 %
  • Energi metabolis : 2200 Kal/kg
Kadar metionin, triptofan, treonin dan lysin bungkil kacang tanah juga mudah tercemar oleh jamur beracun Aspergillus flavus.

2.2.5.      Minyak Nabati
Penggunaan minyak diperlukan pada pembuatan pakan ikan yang membutuhkan pasokan energi tinggi, yang hanya dapat diperoleh dari minyak. Minyak nabati yang digunakan hendaknya minyak nabati yang baik, tidak mudah tengik dan tidak mudah rusak.Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal dari kelapa atau sawit pada umumnya berkisar antara 2 – 6 %.

2.2.6.      Hijauan
Sebagai bahan campuran pakan, kini hijauan mulai dilirik kembali, karena ternyata sampai batasan tertentu hijauan dengan protein tinggi dapat mensubstitusi tepung ikan. Hijauan yang dimaksud antara lain azola, turi dan daun talas, yang bila akan digunakan harus diolah terlebih dahulu, yakni pengeringan (oven atau panas matahari) tapi tidak boleh merusak warna, lalu penggilingan dan pengayakan.

2.3.      Pakan Buatan Yang Bersifat Hewani
2.3.1.      Tepung Ikan
Berasal dari ikan sisa atau buangan yang tidak dikonsumsi oleh manusia, atau sisa pengolahan industri makanan ikan, sehingga kandungan nutrisinya beragam, tapi pada umumnya berkisar antara 60 – 70%. Tepung ikan merupakan pemasok lysin dan metionin yang baik, dimana hal ini tidak terdapat pada kebanyakan bahan baku nabati. Mineral kalsium dan fosfornya pun sangat tinggi, dan karena berbagai keunggulan inilah maka harga tepung ikan menjadi mahal.

2.3.2.      Tepung Rebon dan Benawa
Rebon adalah sejenis udang kecil yang merupakan bahan baku pembuatan terasi. Benawa adalah anak kepiting laut. Rebon dan Benawa muncul pada awal musim hujan di sekitar muara sungai, mengerumuni benda yang terapung.

2.3.3. Tepung Kepala Udang
Bahan yang digunakan adalah kepala udang, limbah pada proses pengolahan udang untuk ekspor.

2.3.4. Tepung Darah
Merupakan limbah dari rumah potong hewan, yang banyak digunakan oleh pabrik pakan, karena protein kasarnya tinggi. Walaupun demikian ada pembatas “religius” dan “dampak kesehatan”. Baik buruknya tepung darah yang digunakan sebagai bahan baku dari segi kesehatan, tergantung pada bagaimana bahan itu diperoleh dari rumah potong hewan. Bila berasal dari penampungan yang bercampur kotoran, tentu bahan ini tidak layak digunakan, tapi bila berasal dari penampungan yang bersih, maka tepung ini memenuhi syarat sebagai bahan baku pakan.



2.3.5. Silase Ikan
Silase adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan/limbahnya.

2.3.6.   Tepung Bulu Ayam dan Tepung Tulang
Tepung bulu diperoleh dengan merebus bulu unggas dalam wadah tertutup dengan tekanan 3,2 atmosfer selama 45 menit dan dikembalikan lagi pada tekanan normal, setelah itu dikeringkan pada temperatur 600 C dan digiling hingga halus. Tepung bulu mempunyai energi metabolis 2354 kal/kg dan asam amino tersedia sebesar 65% dan penggunaannya maksimal 10%.dan Berasal dari tulang-tulang dengan sedikit daging yang melekat, kemudian dikeringkan dan digiling, di pasaran biasa disebut tepung tulang. Bahan ini dapat digunakan antara 2,5 – 10% dalam formula pakan dan lebih bersifat sebagai pendamping tepung ikan. Bila digunakan berlebihan, tentu tidak menguntungkan karena kalsium akan terlalu banyak sehingga menurunkan selera makan.

2.3.7.      Tepung Bekicot
Merupakan bahan daging bekicot mentah dan daging bekicot rebus.

2.3.8.      Tepung Cacing Tanah
Cacing tanah dapat menggantikan tepung ikan dan dapat diternak secara masal.

2.3.9.      Limbah Unit Penetasan Ayam
Dalam penetasan telur ayam ras, ada telur-telur yang tidak bertunas atau bertunas tapi mati, yang biasanya menjadi limbah. Limbah unit penetasan ini akan berguna sekali untuk makanan unggas dan ikan.

2.3      Kandungan Nutrisi Pada Pakan Ikan
2.4.1.      Protein dan Asam Amino
Protein merupakan senyawa polimer yang tersusun dari ikatan asam-asam amino. Pada ikan, protein tersusun sekitar 70% bobot kering bahan organik di dalam jaringan tubuh ikan, oleh karenanya, kandungan protein merupakan salah satu senyawa bergizi yang paling penting pada pakan ikan. Kandungan protein kasar merupakan ukuran umum bagi kualitas pakan ikan dan pertumbuhan ikan akan berbanding langsung dengan kandungan protein di dalam pakannya, jika kandungan itu berada dalam kisaran 20 – 40% protein kasar.Kebutuhan protein optimum untuk ikan bervariasi bergantung pada jenis ikan, tahap kehidupan, suhu air, konsumsi pakan, jumlah pemberian pakan harian, frekuensi pemberian pakan, kualitas protein (komposisi asam amino) dan kualitas energi non protein.
Ikan tidak membutuhkan protein dalam arti yang sebenarnya, tetapi memerlukan kombinasi seimbang 20 jenis asam amino esensial dan non-esensial utama yang menyusun protein. Ikan memanfaatkan protein pakan dengan mencernanya menjadi asam amino bebas yang dapat diserap ke dalam darah dan diedarkan ke jaringan di seluruh tubuh, yang kemudian disusun kembali menjadi protein jaringan ikan yang spesifik dan baru. Protein di dalam jaringan ikan dibentuk dari keseluruhan (20 jenis) asam amino utama. Ikan di dalam tubuhnya dapat mensintesis beberapa jenis asam-asam amino ini, tetapi beberapa asam amino lainnya tidak
. Kesepuluh jenis asam amino yang tidak dapat disintesis oleh ikan ini disebut ”asam amino esensial” sehingga harus disediakan dalam jumlah layak di dalam dietnya. Asam-asam amino esensial yang dibutuhkan oleh ikan dan hewan sama atau serupa, namun secara kuantitatifm berbeda.

Tabel 1. Kebutuhan asam amino ikan lele, ikan mas dan ikan nila dan ketersediaan asam amino bagi ikan lele dalam lima bahan penyusun pakan utama (sebagai basis terkomsumsi) (Schmittou, H.R., 1997)

Asam Amino
Kebutuhan bagi jenis ikan (% pakan)
Ketersedian sumber protein bagi ikan lele
(% bahan penyusun)
Ikan lele
Ikan mas
Ikan nila
Tepung ikan
Tepung kedelai
Tepung biji kapas
Dedak padi
Jagung Pipil
Arginin
1.38
1.37
1.34
3.41
2.93
3.81
0.68
0.35
Histidin
0.48
0.67
0.54
1.23
0.94
0.91
0.19
0.23
Isoleusin
0.38
0.80
0.99
2.51
1.62
1.09
0.40
0.24
Leusin
1.12
1.06
1.09
3.99
2.73
1.78
0.63
1.06
Lisin
1.63
1.82
1.63
4.08
2.52
1.20
0.46
0.24
Metionin + sistin
0.74
0.99
1.02
1.90
1.05
1.05
0.28
0.19
Fenilalanin + tirosin
1.60
2.07
1.82
3.90
2.89
2.63
1.04
0.68
Treonin
0.64
1.25
1.15
2.19
1.36
1.06
0.38
0.24
Triptopan
0.16
0.25
0.32
0.52
0.51
0.45
0.08
0.06
valin
0.96
1.15
0.90
2.80
1.59
1.43
0.62
0.33

            Protein terdapat pada semua jenis hewan dan tumbuhan dalam jumlah dan komposisi asam amino yang bervariasi. Namun, setiap jenis protein bervariasi pula dalam kecernaan (daya cerna) dan kandungan asam amino yang tersedia bagi ikan. Oleh karenanya, komposisi asam amino dan ketersediaannya di dalam bahan penyusun pakan (ingredients) mungkin tidak seimbang dan mungkin terbatas dibandingkan dengan kebutuhan untuk jenis ikan spesifik. Sumber bahan baku pakan bagi penyediaan protein untuk pakan ikan sebagaian besar besar berasal dari tepung ikan, karena produk ini memiliki persentase kandungan protein kasar yang tinggi, mengandungan semua asam amino esensial berkadar tinggi. Tetapi penggunaan bahan alternatif lain sebagai pengganti tepung ikan ataupun bungkil kedelai, antara lain menggunakan tepung kedelai sebagai penggangi tepung ikan.

2.4.2.      Lemak
Lemak merupakan sumbar utama energi pada ikan. Lemak tersimpan dalam jaringan dan berfungsi untuk menjaga stamina yang prima pada ikan yang bersangkutan. Selain itu, juga sebagai media penyimpan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K. Pada makanan ikan, lemak direkomendasikan supaya tidak terlalu tinggi kandungannya. Bahkan ikan-ikan pemakan daging pun (karnivora) kebutuhan akan lemaknya tidak lebih dari 8 %, sedangkan ikan-ikan herbivora kebutuhannya tidak lebih dari 3%. Kelebihan lemak pada ikan diketahui dapat menyebabkan kerusakan hati, menyebabkan timbulnya beberapa penyakit dan sering menimbulkan kematian dini.

2.4.3.      Karbohidrat 
Pada ikan, karbohidrat diperlukan untuk pertumbuhan dan energi. Meskipun demikian, ikan tidak memerlukan karbohidrat dalam julmah besar pada makanannya. Kebanyakan karbohidrat diketahui malah dapat menghambat pertumbuhan ikan. Hal ini tampaknya berkaitan dengan kenyataan bahwa kandungan kadar karbohidrat yang tinggi pada makanan ikan sering berkaitan dengan rendahnya kadar nutrisi esensial lainnya.

2.4.4.      Mineral
Dihabitatnya sumber-sumber mineral bagi ikan banyak tersedia secara alamiah. Tapi dalam lingkungan akuarium yang tertutup dan serba terbatas hal demikian tidak bisa dipenuhi. Oleh kerena itu mineral perlu disediakan melalui makanannya. Mineral pada ikan diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang, gigi, dan bahkan sisik. Mineral utama yang diperlkukan adalah kaslium dan fosfor. Selain itu mereka juga memerlukan besi, iodine, magnesium, natrium, kalium, tembaga dan seng. Kalsium dapat dijumpai pada air-air berkesadahan tinggi sedangkan fofor bisa dijumpai pda tanaman air. Apabila air yang digunakan berkesadahan rendah, dan dalam akuarium tidak ada tanaman airnya maka sangat penting untuk memberikan tambahan mineral pada makanan ikan. Tulang dan daging merupakan sumber kalsium dan fosor yang baik. Meskipun demikian, mereka bisa juga dijumpai pada makanan kering (flake) yang berkualitas baik. 

2.4.5.      Serat 
Serat relatif banyak dijumpai pada sayuran. Meskipun dalam jumlah sedikit dapat membantu proses pencernaan, serat tidak boleh diberikan terlalu banyak. Ikan karnivora bahkan tidak bisa mencerna serat sama sekali, dan direkomendasikan kendungannya pada makanan karivora tidak lebih dari 4 %. Sedangkan untuk ikan herbivora dianjurkan untuk memberikan serat dengan kadar 5 – 10 %.

2.4.6.      Vitamin
Berbeda dengan mineral, vitamin bersifat tidak stabil pada pakan jadi. Flake misalnya, mengandung cukup vitamin pada awalnya, tapi setelah berjalannya waktu vitamin ini akan mengalami kerusakan. Penyimpanan dalam freezer bisa membantu dalam mengawetkan kandungan vitamin, meskipun demikian dianjurkan untuk membeli pakan ikan untuk digunakan dalam waktu dekat. Vitamin utama yang diperlukan oleh ikan adalah A, D3, E, K, B1, B2, B3, B5, B6, B12, H, M dan inositol. 

 Tabel 2. Vitamin mix untuk pakan olahan bagi ikan lele, ikan mas dan ikan nila yang dibudidayakan dalam kolam (Schmittou, H.R., 1997)

Vitamin
Jumlah/ton pakan
Vitamin A
5.5 juta IU (aktif)
Vitamin D3
2 juta IU (aktif)
Vitamin E
50 ribu IU
Vitamin K
10 g
Vitamin B1
20 g
Vitamin B2
20 g
Vitamin B6
10 g
Niasin
100 g
Asam Pantotenat
50 g
Kholin klorida (70%)
5 g
Asam folat
5 g
Vitamin B12
1 g
Biotin
1 g
Inositol
1000 g


BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
1. Ikan membutuhkan pakan untuk dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang biak.
2. Pakan ikan dapat digolongkan ke dalam 2 bentuk, yaitu pakan yang bersifat nabati dan hewani. Dimana yang bersifat hewani diantaranya adalah moina, dapnia, artemia, tubifex dan lain sebagainya, sedangkan pakan yang besifat nabati diantaranya adalah plankton, tepung jagung kuning,bungkil kacang kedelai dan lain-lain.
3. Kandungan nutrisi pada pakan ikan harus disesuaikan dengan nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan, dengan kata lain pakan yang diberikan pada setiap ikan berbeda sesuai dengan kebutuhan nutrisinya masing-masing.
4. Pakan ikan yang baik biasanya memiliki kandungan nutrisi seperti protein, lemak, mineral, karbohidrat, asam amino dan vitamin.



DAFTAR PUSTAKA

Dyahruri, Sanjayasari. 2013. Nutrisi Pakan Ikan. Erlangga; Jakarta.

Hariyadi, dkk. 2005. Evaluasi Efisiensi Pakan dan Efisiensi Protein Pada Ikan. http://repository.usu.ac.id [22 Februari 2013].

Marzuqi, dkk. 2012. Pengaruh Kadar Protein dan Rasio Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan. http://repository.usu.ac.id [22 Februari 2013].

Masyamsir. 2001. Usaha Produksi Pakan Ikan Buatan. Erlangga; Jakarta.

Muchtaromah,    dkk.      Kebutuhan     Nutrisi      Ikan.   http://repository.usu.ac.id
[22 Februari 2013].

Pakpahan,    Rickie.     2005.    Pengaruh     Nutrisi   Ikan. http://isjd.pdii.lipi.go.id
[22 Februari 2013].

Sanjayasari, D., Kasprijoa .2010. Dasar Nutrisi Untuk Keberhasilan Domestikasi. http://repository.ipb.ac.id [22 Februari 2013].


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll