Laporan Praktikum Biologi
Perikanan
SEKSUALITAS
IKAN LELE DUMBO
(Clarias gariepinus)
Dosen Penanggung Jawab :
Indra Lesmana, S.Pi, M.Si
Oleh :
Elvis Patric Presly
110302020
2 / Genap
LABORATORIUM
BIOLOGI PERIKANAN
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan negara kelautan yang kaya akan sumberdaya lautnya dan menjadi salah
satu negara pengekspor hasil perikanan dan laut terbesar di dunia. Perikanan
memiliki kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) bidang perikanan
mengalami peningkatan sebesar 22,86 persen, yaitu dari Rp 56,36 triliun pada
tahun 2005 menjadi Rp 72,97 triliun pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menjadi
Rp 93,22 triliun. (Yulianti, 2009).
Ikan lele dumbo
merupakan hasil persilangan ikan lele lokal yang berasal dari Afrika dengan
lele lokal dari Taiwan. Ikan lele dumbo pertama kali didatangkan ke Indonesia
oleh sebuah perusahan swasta pada tahun 1986. Ikan lele termasuk dalam golongan
ikan karnivora atau pemakan daging. Jenis, ukuran dan jumlah pakan yang
diberikan tergantung ukuran dan lele yang dipelihara. Ada dua jenis pakan ikan
lele, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Disamping itu dapat pula diberikan
pakan alternatif. Pakan alami ikan lele adalah jasad-jasad renik, kutu air,
cacing, jentik-jentik serangga dan sebagainya. Pakan alternatif yang biasa
diberikan adalah ikan rucah atau ikan-ikan hasil tangkapan dari laut yang sudah
tidak layak dikomsumsi oleh manusia, limbah peternakan ayam, daging
bekicot mas dan sisa-sisa dapur rumah tangga (Zarnuji, 2011).
Jenis ikan lele
yang paling banyak dijumpai dan dibudidayakan di Indonesia adalah Clarias batrachus (lele lokal) dan Clarias gariepinus (lele dumbo). Namun
demikian, sifat dan pertumbuhan kedua jenis ikan lele ini berbeda. Warna badan
ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
akan berubah menjadi loreng - loreng apabila terkejut atau menderita stress,
gerakan tubuh lebih agresif, patil tidak beracun, tidak merusak pematang. Warna
badan ikan lele lokal (Clarias batrachus)
akan berubah menjadi gelap apabila terkejut atau menderita stress, gerakan
tubuh tidak agresif, patil beracun, dan merusak pematang dengan membuat lubang.
Bobot badan ikan lele dumbo (Clarias
gariepinus) mencapai 10-15 gram/ekor dalam waktu 5 minggu, sedangkan bobot
badan ikan lele lokal (Clarias batrachus)
hanya mencapai 1-1,5 gram/ekor dalam waktu yang sama (Dopongtonung, 2008).
Dalam biologi
perikanan, hubungan panjang-berat ikan merupakan salah satu informasi pelengkap
yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya
dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya
yang berukuran layak tangkap. Pengukuran panjang-berat ikan bertujuan untuk
mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau
kelompok–kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan,
produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa
hubungan panjang-berat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering
disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu
hal penting
dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan
relatif populasi
ikan atau individu
tertentu (Mulfizar, dkk., 2012).
Jenis kelamin
suatu individu ditentukan oleh factor genetic dan lingkungan. Kedua factor
tersebut akan bekerja secara sinergis untuk menentukan fenotip suatu karakter.
Secara genetic jenis kelamin suautu individu sudah ditetapkan pada waktu
pembuahan. Namun pada saat embrio gonad atau organ kelamin primer masih berada
dalam keadaan indeferen, yaitu keadaan dimana bakat-bakat untuk menjadi jantan
atau betina dalam bentuk rudimeter dimana semua kelengkapan struktur-struktur
jantan dan betina sudah ada, hanya menunggu perintah Diferensiasi dan penekanan
kearah aspek-aspek jantan atau betina (Jufrie, 2006).
1.2
Tujuan
Praktikum
Adapun tujuan
praktikum dari praktikum ini adalah untuk mengenal jenis kelamin ikan, serta
dapat membedakan jenis kelamin ikan jantan dan betina melalui pengamatan ciri
seksual primer dan ciri seksual sekunder pada ikan yang diamati.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Ikan Lele Dumbo
Lele dibagi
menjadi dua yaitu lele local dan lele dumbo. Lele dumbo memiliki ukuran yang
lebih besar dibandingkan dengan lele lokal. Klasifikasi ikan lele dumbo.
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Famili :
Clariidae
Genus :
Clarias gariepinus (Wartono, 2011).
Ikan lele (Clarias spp) mempunyai ciri-ciri yang bisa
digunakan untuk membedakan dengan jenis ikan lainnya, yaitu memiliki bentuk
memanjang, bagian badan bulat dan memipih ke arah ekor, tidak bersisik serta
mengeluarkan mukus. Ikan lele memiliki kepala berbentuk pipih dan simetris,
memiliki patil, mulut lebar, tidak bergigi, dan mulut memiliki sepasang sungut
mandibular dan sepasang sungut maksilar yang lebih panjang dan tegar, daerah
kepala sampai punggung berwarna coklat kehitaman. Ikan lele memiliki sifat
tenang dan lebih jinak. Ikan lele (Clarias
spp) memiliki kemampuan hidup di dalam lumpur dan air dengan kandungan oksigen
rendah. Hal ini disebabkan karena ikan ini memiliki alat pernapasan tambahan
(arborescent) yang terdapat di dalam ruang udara sebelah atas insang, sehingga
ikan lele dapat mengambil oksigen untuk bernafas langsung dari udara di luar air. Ikan lele (Clarias
spp) termasuk hewan
malam (nokturnal),
yang aktif bergerak pada
malam hari dan
bersembunyi pada siang hari. Pakan ikan
lele berupa pakan alami dan pakan tambahan (Dopongtonung, 2008).
Selain sosoknya
yang berbeda, lele lokal dan lele dumbo ternyata juga memiliki perilaku yang
berlainan. Perilaku yang boleh dibilang sama hanyalah sifat aktifnya pada malam
hari. Sifat-sifat lele lokal diantaranya: gerakannya tidak terlalu agresif,
patilnya mengandun racun, warna kulitnya berubah menjadi hitam jika terkejut
atau stres, dan dapat membuat lubang di kolam atau pematang. Sebaliknya
perilaku lele dumbo diantaranya ; gerakanya lele dumbo lebih agresif, patilnya
tidak beracun, warnanya berubah menjadi bercak-bercak hitam/putih jika stress
dan tidak merusak pematang (Wartono, 2011).
2.2
Seksualitas
Ikan Lele
Ciri seksual
primer adalah alat/organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Contoh:
Testes dan salurannya pada ikan jantan, Ovarium dan salurannya pada ikan betina
Ciri seksual sekunder adalah ciri seksual yang terlihat dari luar tubuh ikan,
meskipun kadangkala tidak memberikan hasil yang nyata. Ciri seksual sekunder
terdiri dari: bentuk tubuh (jantan lebih besar), buncak pemijahan pd ikan
betina, sirip ekor lebih panjang pd betina, warna tubuh
lebih cemerlang pd betina (Permadi, dkk.,2009).
Ciri-ciri induk
betina ikan lele adalah genital apapila berbentuk bundar (oval), bagian perut
relatif lebih besar, gerakan lambat, jika di raba bagian perut terasa lembek
dan alat kelamin berwarna kemerah merahan. Sedangkan induk jantan dicirikan
dengan genitalnya meruncing ke arah ekor, perut ramping dan pada ujung alat kelamin
berwarna kemerahan selain itu ada perubahan warna tubuh menjadi coklat
kemerahan. Ciri-ciri induk betina lele dumbo yang siap untuk dipijahkan sebagai
berikut:
1. Bagian
perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
2. Lubang
kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
3. Jika
bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir
telur berwarna hijau tua dan ukurannya relatif besar.
4. Gerakannya
lambat.
Ciri-ciri induk jantan lele dumbo
jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut :
1. Alat
kelamin tampak jelas memerah
2. Warna
tubuh agak kemerah-merahan
3. Tubuh
ramping dan gerakannya lincah (Setiawan, dkk.,
2009).
Secara morfologi
ikan lele jantan dan betina dapat dibedakan dari urogenital papilla yang terletak
dibelakang anus. Ikan lele jantan memiliki alat urogenital lebih panjang dan
menonjol. Induk ikan lele jantan tidak dapat diambil spermanya dengan cara
diurut (stripping), sehingga induk jantan harus d bunuh terlebih dahulu
kemudian testisnya diambil (Jufrie, 2006).
Dilihat
dari proses perubahan jenis kelamin dapat terjadi secara alamiah dan buatan.
Pada perubahan kelamin yang sering terjadi secara alami sifat genetic bawaan
dari kromosom tidak mengalamin perubahan dan hanya penampilannya saja yang
berubah. Sementara yang secara buatan adalah dengan proses sex reversal dimana
ikan diberi hormone untuk mengarahkan jenis kelamin sesuai dengan hormonyang
diberikan. Banyak factor yang harus diperhatikan dalam melakukan sex
reversal. Selain pemilihan hormone yang tepat, factor- factor lain seperti
jenis dan umur ikan, dosis hormone, cara, waktu dan lama pemberian pakan
hormone, serta factor lingkungan. Perbedaan jenis kelamin suatu individu
umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :
1. Faktor
lingkungan
Dimana
kondisi lingkungan diluar tubuh ikan dapat dipengaruhiterhadap jenis kelamin
suatu individu.
2. Faktor
genetic
Secara
alami factor genetiklah yg menentukan jenis kelamin. Oleh
karena bahan genetic terdapat dalam kromosom, maka perbedaan jenis kelamin
ditentukan dalam susunan kromosom. (Harijanto, 2006).
Sifat seksual
ikan merupakan sifat biologis dari suatu ikan untuk melakukan suatu proses
reproduksi itu sendiri ada yang besifat hermaprodit, yaitu bila dalam tubuhnya
terdapat jaringan ovarium yang sebagai penentu indvidu betina dan terhadap juga
testis sebagi penentu indvidu jantan. Keduanya terdapat dalam satu organ dan
letaknya seperti letak gonad indvidu normal. Mempunyai dua jenis kelamin tetapi
kadang tidak semuanya dapat digunakan dalam satu waktu. Pada umumnya, ikan
hermaprodit hanya satu sex saja yang berfungsi pada suatu saat, meskipun ada
beberapa spesies yang bersifat hemaprodit sinkroni. Ada 3 macam hermaprodit:
1. Hermaprodit Sinkroni
apabila didalam gonad individu
terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersamaan. Contoh:
Serranus cabrilla
2. Hermaprodit Protandri
yang berarti di dalam tubuh ikan
tersebut mempunyai gonad yang mengadakan deferensiasi dari fase jantan ke
betina. Contoh: Ikan kakap (Lates calcarifer),tjd sth ikan mencapai ukuran 3
kg.
3. Hermaprodit Protogini
yang merupakan keadaan sebalik dari
hermaprodi protandri yaitu proses diferensiasinya berjalan dari fase betina ke
fase jantan. Contoh: Belut sawah (Monopterus albus), Kerapu lumpur (Epinephelus
tauvina) (Irawan, dkk., 2009).
2.3
Testes dan Ovarium
Testes (gonad
jantan) bersifat internal dan memanjang (longitudinal), pada umumnya
berpasangan. Testes bergantung pada bagian atas rongga tubuh dg perantaraan
mesorchium, di bawah atau di samping gelembung gas (jika ada). Tersusun atas
folikel-folikel tempat spermatozoa berkembang. Ukuran dan warna bervariasi
tergantung tingkat kematangannya. Beratnya dpt mencapai 12% atau lebih dr bobot
tubuhnya. Warna umumnya putih kekuningan atau halus. Ovarium berbentuk
longitudinal, letaknya internal dan berjumlah sepasang. Tergantung pd bagian
atas rongga tubuh dgn perantaraan mesovaria di bawah atau di samping gelembung
gas (jika ada). Ukuran dan perkembangannya dlm rongga tubuh bervariasi dgn
tingkat kematangannya. Dalam keadaan matang gonad, ovarium dpt mencapai 70% dr
berat tubuhnya (Jufrie, 2006).
BAB
III
BAHAN
DAN METODE
3.1
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 06 April 2013 pada pukul 13.00 sampai
dengan selesai. Lokasi praktikum terletak di Laboratorium Terpadu Manajemen
Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
3.2.
Alat dan Bahan Praktikum
Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah nampan/baki yang berguna untuk
tempat meletakan ikan yang akan dibedah, timbangan yang berguna untuk menimbang
berat ikan, kain lap yang berguna untuk membersihkan kotoran, kertas milimeter
laminating berfungsi untuk mengukur data ikan, seperangkat alat bedah, dan alat
tulis. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan lele dumbo (Clarias gariepinus).
3.3
Prosedur Praktikum
-Diukur
panjang total, panjang baku, dan atau panjang fork serta menggambar setiap
individu ikan.
-Ditimbang
berat ikan dengan timbangan.
-Dicatat
penampakan ciri seksual sekunder (dimorphisme dan dichromatisme) pada individu
ikan jantan dan ikan betina yang diamati.
-Dilakukan
penstipingan pada individu ikan untuk mendapatkan gametnya dan atau lakukan pengambilan
gamet dengan cara keteter.
-Dibedah
perut individu ikan dengan alat bedah dan diamati dan dicatat gonad yang
dimiliki individu ikan tersebut.
-Diukur
diameter beberapa butir telur yang didapat.
-Dibuat
data morphometrik ikan, ciri seksual ikan jantan dan ciri seksual ikan betina
dalam laporan sementara berdasarkan data hasil pengamatan dan pencatatan.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Ordo : Actinopterygii
Famili : Claridae
Genus
: Clarias
Spesies : Clarias
gariepinus
Ciri Seksual Ikan Jantan
|
Ciri
Seksual
|
Keterangan
|
|
Ukuran tubuh
|
Lebih besar
|
|
Bentuk tengkuk pada kepala
|
Menonjol
|
|
Halus kasarnya permukaan kepala
|
Kepala halus
|
|
Bentuk ujung sirip punggung
|
Memanjang dan pendek
|
|
Bentuk abdominal
|
Ramping
|
|
Bentuk papilla genital
|
Lonjong
|
|
Jumlah lubang genital
|
1
|
|
Bentuk lubang genital
|
Lonjong
|
|
Bentuk salah satu jari sirip anal
|
Kecil
|
|
Bentuk slah satu jari sirip perut
sebelah kiri
|
Pendek
|
|
Warna pada badan
|
Hitam keputihan
|
|
Warna pada sirip punggung dan ekor
|
Hitam
|
|
Garis-garis warna pada sirip ekor dan
tubuh
|
Hitam
|
|
Warna noktah pada batang ekor
|
Hitam keputihan
|
|
Warna pada dasar sirip dada dan perut
|
Kehitaman
|
Ciri-ciri seksual ikan jantan :
·
Jika diurut tidak
mengeluarkan telur
·
Memiliki testes
Ciri Seksual Ikan Betina
|
Ciri
Seksual
|
Keterangan
|
|
Ukuran tubuh
|
Lebih kecil
|
|
Bentuk tengkuk pada kepala
|
Bergerigi
|
|
Halus kasarnya permukaan kepala
|
Kasar
|
|
Bentuk ujung sirip punggung
|
Halus
|
|
Bentuk abdominal
|
Membulat
|
|
Bentuk papilla genital
|
1
|
|
Jumlah lubang genital
|
Membulat
|
|
Bentuk lubang genital
|
Besar
|
|
Bentuk salah satu jari sirip anal
|
Panjang
|
|
Bentuk slah satu jari sirip perut
sebelah kiri
|
Hitam
|
|
Warna pada badan
|
Hitam
|
|
Warna pada sirip punggung dan ekor
|
Hitam keputihan
|
|
Garis-garis warna pada sirip ekor dan
tubuh
|
Hitam keputihan
|
|
Warna noktah pada batang ekor
|
Kehitaman
|
|
Warna pada dasar sirip dada dan perut
|
Kehitaman
|
Ciri seksual ikan betina :
·
Jika diurut
mengeluarkan telur
·
Memiliki ovary
Data Morphometrik
|
Ikan
|
TL
(cm)
|
FL
(cm)
|
SL
(cm)
|
Berat
(g)
|
|
1
|
27
|
-
|
24
|
160
|
|
2
|
28
|
-
|
24,5
|
150
|
|
3
|
28
|
-
|
27
|
162
|
|
4
|
28
|
-
|
24
|
155
|
|
5
|
26
|
-
|
24
|
146
|
|
6
|
27
|
-
|
24
|
130
|
|
7
|
27
|
-
|
24
|
150
|
|
8
|
27
|
-
|
23
|
150
|
|
9
|
28
|
-
|
25
|
150
|
|
10
|
28
|
-
|
24
|
150
|
4.2 Pembahasan
Dari hasil
praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara ciri seksual ikan
lele jantan dan ciri seksual ikan lele betina, dilihat dari ukuran tubuh ikan,
bentuk tengkuk pada kepala, halus kasarnya permukaan kepala, bentuk ujung sirip
punggung, bentuk abdominal, bentuk papilla genital, jumlah lubang genital,
bentuk lubang genital, bentuk salah satu jari sirip anal, bentuk salah satu
jari sirip perut sebelah kiri, warna pada badan, warna pada sirip punggung dan
ekor, garis-garis warna pada sirip ekor dan tubuh, warna noktah pada batang
ekor, warna pada dasar sirip dada dan perut. Hal ini sesuai dengan literatur
Permadi, dkk (2009) yang menyatakan bahwa Ciri seksual primer adalah alat/organ
yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Contoh: Testes dan
salurannya pada ikan jantan, Ovarium dan salurannya pada ikan betina Ciri
seksual sekunder adalah ciri seksual yang terlihat dari luar tubuh ikan,
meskipun kadang kala tidak memberikan hasil yang nyata. Ciri seksual sekunder
terdiri dari: bentuk tubuh (jantan lebih besar), sirip ekor lebih panjang pada
betina, warna tubuh lebih cemerlang pada betina.
Dari hasil
praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan gonad ikan lele jantan
dan gonad ikan lele betina yang dapat dilihat secara visual maupun melalui
proses pembedahan pada ikan. Hal ini sesuai dengan literatur Jufrie (2006) yang
menyatakan bahwa Testes (gonad jantan) bersifat internal dan memanjang
(longitudinal), pada umumnya berpasangan. Testes bergantung pada bagian atas
rongga tubuh dg perantaraan mesorchium, di bawah atau di samping gelembung gas
(jika ada). Tersusun atas folikel-folikel tempat spermatozoa berkembang. Ukuran
dan warna bervariasi tergantung tingkat kematangannya. Beratnya dpt mencapai
12% atau lebih dr bobot tubuhnya. Warna umumnya putih kekuningan atau halus.
Ovarium berbentuk longitudinal, letaknya internal dan berjumlah sepasang.
Tergantung pd bagian atas rongga tubuh dgn perantaraan mesovaria di bawah atau
di samping gelembung gas (jika ada). Ukuran dan perkembangannya dlm rongga
tubuh bervariasi dgn tingkat kematangannya. Dalam keadaan matang gonad, ovarium
dpt mencapai 70% dr berat tubuhnya.
Dari hasil
praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan jenis kelamin suatu
individu umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan dan
faktor genetik. Hal ini sesuai dengan literatur Harijanto (2006). Yang
menyatakan bahwa Faktor lingkungan adalah dimana kondisi lingkungan diluar
tubuh ikan dapat dipengaruhiterhadap jenis kelamin suatu individu. Dan faktor
genetic adalah secara alami faktor genetiklah yang menentukan jenis kelamin
suaru makhluk. Oleh karena bahan genetic terdapat dalam kromosom, maka
perbedaan jenis kelamin ditentukan dalam susunan kromosom.
Dari hasil
praktikum yang telah dilakukan diketahui data morphometrik dari semua ikan
meliputi panjang total, panjang fork, panjang baku, dan bobot ikan yang berguna
untuk hubungan kematangan gonad ikan sehingga dapat dengan mudah diidentifikasi
antara ikan lele jantan dan ikan lele betina. Hal ini sesuai dengan literatur
Mulfizar, dkk (2012) yang menyatakan bahwa Dalam biologi perikanan, hubungan
panjang-berat ikan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu
diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya dalam
penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya yang
berukuran layak tangkap. Pengukuran panjang-berat ikan bertujuan untuk
mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau
kelompok kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan,
produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa
hubungan panjang-berat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering
disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu hal penting dari
pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi
ikan atau individu tertentu.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini
adalah:
1. 1. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui ciri seksual
ikan jantan yaitu jika diurut tidak mengeluarkan telur, dan memiliki tester.
Ciri seksual ikan betina yaitu jika diurut mengeluarkan telur, dan memiliki
ovary.
2. 2. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara ikan jantan dan
ikan betina dengan pengamatan secara visual. Yaitu ukuran tubuh jantan lebih
besar sedangkan ukuran tubuh betina lebih kecil, bentuk tengkuk kepala pada
ikan jantan menonjol sedangkan bentuk tengkuk kepala pada ikan betina kasar,
warna tubuh ikan jantan hitam keputihan sedangkan warna tubuh ikan betina
hitam.
3. 3. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan jenis kelamin
suatu individu umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan dan
faktor genetik.
4. 4. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara gonad ikan
jantan dan gonad ikan betina.
5. 5. Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui data morphometrik ikan meliputi
panjang total, panjang fork, panjang baku, dan bobot ikan dari semua ikan.
5.2 Saran
Adapun saran yang
dapat diberikan dari praktikum yang telah dilakukan sebaiknya praktikan menggunakan sarung tangan agar tangan tetap bersih pada saat pembedahan ikan
dan sebaiknya menggunakan jumlah ikan yang tidak terlalu banyak agar menghemat
biaya praktikum.

.jpg)
PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO
BalasHapusmenyediakan hormon B-Estradiol untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www TOKOPEDIA.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro