Pages

Rabu, 10 April 2013

Seksualitas Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)


Laporan Praktikum Biologi Perikanan


SEKSUALITAS IKAN LELE DUMBO
(Clarias gariepinus)


Dosen Penanggung Jawab :
Indra Lesmana, S.Pi, M.Si

Oleh :
Elvis Patric Presly
110302020
2 / Genap






LABORATORIUM BIOLOGI PERIKANAN
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kelautan yang kaya akan sumberdaya lautnya dan menjadi salah satu negara pengekspor hasil perikanan dan laut terbesar di dunia. Perikanan memiliki kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) bidang perikanan mengalami peningkatan sebesar 22,86 persen, yaitu dari Rp 56,36 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 72,97 triliun pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menjadi Rp 93,22 triliun. (Yulianti, 2009).
Ikan lele dumbo merupakan hasil persilangan ikan lele lokal yang berasal dari Afrika dengan lele lokal dari Taiwan. Ikan lele dumbo pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh sebuah perusahan swasta pada tahun 1986. Ikan lele termasuk dalam golongan ikan karnivora atau pemakan daging. Jenis, ukuran dan jumlah pakan yang diberikan tergantung ukuran dan lele yang dipelihara. Ada dua jenis pakan ikan lele, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Disamping itu dapat pula diberikan pakan alternatif. Pakan alami ikan lele adalah jasad-jasad renik, kutu air, cacing, jentik-jentik serangga dan sebagainya. Pakan alternatif yang biasa diberikan adalah ikan rucah atau ikan-ikan hasil tangkapan dari laut yang sudah tidak layak dikomsumsi oleh manusia, limbah peternakan ayam, daging bekicot mas dan sisa-sisa dapur rumah tangga (Zarnuji, 2011).
Jenis ikan lele yang paling banyak dijumpai dan dibudidayakan di Indonesia adalah Clarias batrachus (lele lokal) dan Clarias gariepinus (lele dumbo). Namun demikian, sifat dan pertumbuhan kedua jenis ikan lele ini berbeda. Warna badan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) akan berubah menjadi loreng - loreng apabila terkejut atau menderita stress, gerakan tubuh lebih agresif, patil tidak beracun, tidak merusak pematang. Warna badan ikan lele lokal (Clarias batrachus) akan berubah menjadi gelap apabila terkejut atau menderita stress, gerakan tubuh tidak agresif, patil beracun, dan merusak pematang dengan membuat lubang. Bobot badan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) mencapai 10-15 gram/ekor dalam waktu 5 minggu, sedangkan bobot badan ikan lele lokal (Clarias batrachus) hanya mencapai 1-1,5 gram/ekor dalam waktu yang sama (Dopongtonung, 2008).
Dalam biologi perikanan, hubungan panjang-berat ikan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Pengukuran panjang-berat ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok–kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa hubungan panjang-berat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah    satu    hal    penting    dari    pertumbuhan   untuk membandingkan kondisi atau    keadaan    kesehatan    relatif     populasi    ikan    atau    individu    tertentu (Mulfizar, dkk., 2012).
Jenis kelamin suatu individu ditentukan oleh factor genetic dan lingkungan. Kedua factor tersebut akan bekerja secara sinergis untuk menentukan fenotip suatu karakter. Secara genetic jenis kelamin suautu individu sudah ditetapkan pada waktu pembuahan. Namun pada saat embrio gonad atau organ kelamin primer masih berada dalam keadaan indeferen, yaitu keadaan dimana bakat-bakat untuk menjadi jantan atau betina dalam bentuk rudimeter dimana semua kelengkapan struktur-struktur jantan dan betina sudah ada, hanya menunggu perintah Diferensiasi dan penekanan kearah aspek-aspek jantan atau betina (Jufrie, 2006).

1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum dari praktikum ini adalah untuk mengenal jenis kelamin ikan, serta dapat membedakan jenis kelamin ikan jantan dan betina melalui pengamatan ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder pada ikan yang diamati.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Lele Dumbo
Lele dibagi menjadi dua yaitu lele local dan lele dumbo. Lele dumbo memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan lele lokal. Klasifikasi ikan lele dumbo.
Kingdom  : Animalia
Filum       : Chordata
Kelas       : Actinopterygii
Ordo       : Siluriformes
Famili     : Clariidae
Genus     : Clarias gariepinus (Wartono, 2011).
Ikan lele (Clarias spp) mempunyai ciri-ciri yang bisa digunakan untuk membedakan dengan jenis ikan lainnya, yaitu memiliki bentuk memanjang, bagian badan bulat dan memipih ke arah ekor, tidak bersisik serta mengeluarkan mukus. Ikan lele memiliki kepala berbentuk pipih dan simetris, memiliki patil, mulut lebar, tidak bergigi, dan mulut memiliki sepasang sungut mandibular dan sepasang sungut maksilar yang lebih panjang dan tegar, daerah kepala sampai punggung berwarna coklat kehitaman. Ikan lele memiliki sifat tenang dan lebih jinak. Ikan lele (Clarias spp) memiliki kemampuan hidup di dalam lumpur dan air dengan kandungan oksigen rendah. Hal ini disebabkan karena ikan ini memiliki alat pernapasan tambahan (arborescent) yang terdapat di dalam ruang udara sebelah atas insang, sehingga ikan lele dapat mengambil oksigen untuk bernafas langsung dari  udara   di   luar   air.    Ikan   lele   (Clarias spp)   termasuk   hewan
malam  (nokturnal),  yang  aktif  bergerak  pada  malam   hari   dan    bersembunyi pada   siang   hari.   Pakan   ikan   lele   berupa   pakan  alami dan pakan tambahan (Dopongtonung, 2008).
Selain sosoknya yang berbeda, lele lokal dan lele dumbo ternyata juga memiliki perilaku yang berlainan. Perilaku yang boleh dibilang sama hanyalah sifat aktifnya pada malam hari. Sifat-sifat lele lokal diantaranya: gerakannya tidak terlalu agresif, patilnya mengandun racun, warna kulitnya berubah menjadi hitam jika terkejut atau stres, dan dapat membuat lubang di kolam atau pematang. Sebaliknya perilaku lele dumbo diantaranya ; gerakanya lele dumbo lebih agresif, patilnya tidak beracun, warnanya berubah menjadi bercak-bercak hitam/putih jika stress dan tidak merusak pematang (Wartono, 2011).

2.2  Seksualitas Ikan Lele
Ciri seksual primer adalah alat/organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Contoh: Testes dan salurannya pada ikan jantan, Ovarium dan salurannya pada ikan betina Ciri seksual sekunder adalah ciri seksual yang terlihat dari luar tubuh ikan, meskipun kadangkala tidak memberikan hasil yang nyata. Ciri seksual sekunder terdiri dari: bentuk tubuh (jantan lebih besar), buncak pemijahan pd ikan betina, sirip ekor lebih panjang pd betina, warna tubuh lebih cemerlang pd betina (Permadi, dkk.,2009).
Ciri-ciri induk betina ikan lele adalah genital apapila berbentuk bundar (oval), bagian perut relatif lebih besar, gerakan lambat, jika di raba bagian perut terasa lembek dan alat kelamin berwarna kemerah merahan. Sedangkan induk jantan dicirikan dengan genitalnya meruncing ke arah ekor, perut ramping dan pada ujung alat kelamin berwarna kemerahan selain itu ada perubahan warna tubuh menjadi coklat kemerahan. Ciri-ciri induk betina lele dumbo yang siap untuk dipijahkan sebagai berikut:
1.      Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
2.      Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
3.      Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna hijau tua dan ukurannya relatif besar.
4.      Gerakannya lambat.
Ciri-ciri induk jantan lele dumbo jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut :
1.      Alat kelamin tampak jelas memerah
2.      Warna tubuh agak kemerah-merahan
3.      Tubuh ramping dan gerakannya lincah (Setiawan, dkk., 2009).
Secara morfologi ikan lele jantan dan betina dapat dibedakan dari urogenital papilla yang terletak dibelakang anus. Ikan lele jantan memiliki alat urogenital lebih panjang dan menonjol. Induk ikan lele jantan tidak dapat diambil spermanya dengan cara diurut (stripping), sehingga induk jantan harus d bunuh terlebih dahulu kemudian testisnya diambil (Jufrie, 2006).
            Dilihat dari proses perubahan jenis kelamin dapat terjadi secara alamiah dan buatan. Pada perubahan kelamin yang sering terjadi secara alami sifat genetic bawaan dari kromosom tidak mengalamin perubahan dan hanya penampilannya saja yang berubah. Sementara yang secara buatan adalah dengan proses sex reversal dimana ikan diberi hormone untuk mengarahkan jenis kelamin sesuai dengan hormonyang diberikan. Banyak factor yang harus diperhatikan dalam melakukan  sex reversal. Selain pemilihan hormone yang tepat, factor- factor lain seperti jenis dan umur ikan, dosis hormone, cara, waktu dan lama pemberian pakan hormone, serta factor lingkungan. Perbedaan jenis kelamin suatu individu umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :
1.      Faktor lingkungan
Dimana kondisi lingkungan diluar tubuh ikan dapat dipengaruhiterhadap jenis kelamin suatu individu.
2.      Faktor genetic
Secara alami factor genetiklah yg menentukan jenis kelamin. Oleh karena bahan genetic terdapat dalam kromosom, maka perbedaan jenis kelamin ditentukan dalam susunan kromosom. (Harijanto, 2006).
Sifat seksual ikan merupakan sifat biologis dari suatu ikan untuk melakukan suatu proses reproduksi itu sendiri ada yang besifat hermaprodit, yaitu bila dalam tubuhnya terdapat jaringan ovarium yang sebagai penentu indvidu betina dan terhadap juga testis sebagi penentu indvidu jantan. Keduanya terdapat dalam satu organ dan letaknya seperti letak gonad indvidu normal. Mempunyai dua jenis kelamin tetapi kadang tidak semuanya dapat digunakan dalam satu waktu. Pada umumnya, ikan hermaprodit hanya satu sex saja yang berfungsi pada suatu saat, meskipun ada beberapa spesies yang bersifat hemaprodit sinkroni. Ada 3 macam hermaprodit:
1. Hermaprodit Sinkroni
apabila didalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersamaan. Contoh: Serranus cabrilla
2. Hermaprodit Protandri
yang berarti di dalam tubuh ikan tersebut mempunyai gonad yang mengadakan deferensiasi dari fase jantan ke betina. Contoh: Ikan kakap (Lates calcarifer),tjd sth ikan mencapai ukuran 3 kg.
3. Hermaprodit Protogini
yang merupakan keadaan sebalik dari hermaprodi protandri yaitu proses diferensiasinya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Contoh: Belut sawah (Monopterus albus), Kerapu lumpur (Epinephelus tauvina) (Irawan, dkk., 2009).

2.3 Testes dan Ovarium
Testes (gonad jantan) bersifat internal dan memanjang (longitudinal), pada umumnya berpasangan. Testes bergantung pada bagian atas rongga tubuh dg perantaraan mesorchium, di bawah atau di samping gelembung gas (jika ada). Tersusun atas folikel-folikel tempat spermatozoa berkembang. Ukuran dan warna bervariasi tergantung tingkat kematangannya. Beratnya dpt mencapai 12% atau lebih dr bobot tubuhnya. Warna umumnya putih kekuningan atau halus. Ovarium berbentuk longitudinal, letaknya internal dan berjumlah sepasang. Tergantung pd bagian atas rongga tubuh dgn perantaraan mesovaria di bawah atau di samping gelembung gas (jika ada). Ukuran dan perkembangannya dlm rongga tubuh bervariasi dgn tingkat kematangannya. Dalam keadaan matang gonad, ovarium dpt mencapai 70% dr berat tubuhnya (Jufrie, 2006).





BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 06 April 2013 pada pukul 13.00 sampai dengan selesai. Lokasi praktikum terletak di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

3.2. Alat dan Bahan Praktikum
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah nampan/baki yang berguna untuk tempat meletakan ikan yang akan dibedah, timbangan yang berguna untuk menimbang berat ikan, kain lap yang berguna untuk membersihkan kotoran, kertas milimeter laminating berfungsi untuk mengukur data ikan, seperangkat alat bedah, dan alat tulis. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan lele dumbo (Clarias gariepinus).

3.3 Prosedur Praktikum
-Diukur panjang total, panjang baku, dan atau panjang fork serta menggambar setiap individu ikan.
-Ditimbang berat ikan dengan timbangan.
-Dicatat penampakan ciri seksual sekunder (dimorphisme dan dichromatisme) pada individu ikan jantan dan ikan betina yang diamati.
-Dilakukan penstipingan pada individu ikan untuk mendapatkan gametnya dan atau lakukan pengambilan gamet dengan cara keteter.
-Dibedah perut individu ikan dengan alat bedah dan diamati dan dicatat gonad yang dimiliki individu ikan tersebut.
-Diukur diameter beberapa butir telur yang didapat.
-Dibuat data morphometrik ikan, ciri seksual ikan jantan dan ciri seksual ikan betina dalam laporan sementara berdasarkan data hasil pengamatan dan pencatatan.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)


Klasifikasi                              
Kingdom         : Animalia       
  Filum               : Chordata                            
    Kelas               : Pisces
      Ordo                 : Actinopterygii               
        Famili               : Claridae                                   
          Genus               : Clarias                                   
            Spesies            : Clarias gariepinus



Ciri Seksual Ikan Jantan
Ciri Seksual
Keterangan
     Ukuran tubuh
     Lebih besar
     Bentuk tengkuk pada kepala
     Menonjol
     Halus kasarnya permukaan kepala
     Kepala halus
     Bentuk ujung sirip punggung
     Memanjang dan pendek
     Bentuk abdominal
     Ramping
     Bentuk papilla genital
     Lonjong
     Jumlah lubang genital
     1
     Bentuk lubang genital
     Lonjong
     Bentuk salah satu jari sirip anal 
     Kecil
     Bentuk slah satu jari sirip perut sebelah kiri
     Pendek
     Warna pada badan
     Hitam keputihan
     Warna pada sirip punggung dan ekor
     Hitam
     Garis-garis warna pada sirip ekor dan tubuh
     Hitam
     Warna noktah pada batang ekor
     Hitam keputihan
     Warna pada dasar sirip dada dan perut
     Kehitaman

Ciri-ciri seksual ikan jantan :
·         Jika diurut tidak mengeluarkan telur
·         Memiliki testes
Ciri Seksual Ikan Betina
Ciri Seksual
Keterangan
     Ukuran tubuh
     Lebih kecil
     Bentuk tengkuk pada kepala
     Bergerigi
     Halus kasarnya permukaan kepala
     Kasar
     Bentuk ujung sirip punggung
     Halus
     Bentuk abdominal
     Membulat
     Bentuk papilla genital
     1
     Jumlah lubang genital
     Membulat
     Bentuk lubang genital
     Besar
     Bentuk salah satu jari sirip anal
     Panjang
     Bentuk slah satu jari sirip perut sebelah kiri
     Hitam
     Warna pada badan
     Hitam
     Warna pada sirip punggung dan ekor
     Hitam keputihan
     Garis-garis warna pada sirip ekor dan tubuh
     Hitam keputihan
     Warna noktah pada batang ekor
     Kehitaman
     Warna pada dasar sirip dada dan perut
     Kehitaman

Ciri seksual ikan betina :
·         Jika diurut mengeluarkan telur
·         Memiliki ovary
                                                                                           
Data Morphometrik
Ikan
TL (cm)
FL (cm)
SL (cm)
Berat (g)
1
27
-
24
160
2
28
-
24,5
150
3
28
-
27
162
4
28
-
24
155
5
26
-
24
146
6
27
-
24
130
7
27
-
24
150
8
27
-
23
150
9
28
-
25
150
10
28
-
24
150



4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara ciri seksual ikan lele jantan dan ciri seksual ikan lele betina, dilihat dari ukuran tubuh ikan, bentuk tengkuk pada kepala, halus kasarnya permukaan kepala, bentuk ujung sirip punggung, bentuk abdominal, bentuk papilla genital, jumlah lubang genital, bentuk lubang genital, bentuk salah satu jari sirip anal, bentuk salah satu jari sirip perut sebelah kiri, warna pada badan, warna pada sirip punggung dan ekor, garis-garis warna pada sirip ekor dan tubuh, warna noktah pada batang ekor, warna pada dasar sirip dada dan perut. Hal ini sesuai dengan literatur Permadi, dkk (2009) yang menyatakan bahwa Ciri seksual primer adalah alat/organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Contoh: Testes dan salurannya pada ikan jantan, Ovarium dan salurannya pada ikan betina Ciri seksual sekunder adalah ciri seksual yang terlihat dari luar tubuh ikan, meskipun kadang kala tidak memberikan hasil yang nyata. Ciri seksual sekunder terdiri dari: bentuk tubuh (jantan lebih besar), sirip ekor lebih panjang pada betina, warna tubuh lebih cemerlang pada betina.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan gonad ikan lele jantan dan gonad ikan lele betina yang dapat dilihat secara visual maupun melalui proses pembedahan pada ikan. Hal ini sesuai dengan literatur Jufrie (2006) yang menyatakan bahwa Testes (gonad jantan) bersifat internal dan memanjang (longitudinal), pada umumnya berpasangan. Testes bergantung pada bagian atas rongga tubuh dg perantaraan mesorchium, di bawah atau di samping gelembung gas (jika ada). Tersusun atas folikel-folikel tempat spermatozoa berkembang. Ukuran dan warna bervariasi tergantung tingkat kematangannya. Beratnya dpt mencapai 12% atau lebih dr bobot tubuhnya. Warna umumnya putih kekuningan atau halus. Ovarium berbentuk longitudinal, letaknya internal dan berjumlah sepasang. Tergantung pd bagian atas rongga tubuh dgn perantaraan mesovaria di bawah atau di samping gelembung gas (jika ada). Ukuran dan perkembangannya dlm rongga tubuh bervariasi dgn tingkat kematangannya. Dalam keadaan matang gonad, ovarium dpt mencapai 70% dr berat tubuhnya.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan jenis kelamin suatu individu umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan dan faktor genetik. Hal ini sesuai dengan literatur Harijanto (2006). Yang menyatakan bahwa Faktor lingkungan adalah dimana kondisi lingkungan diluar tubuh ikan dapat dipengaruhiterhadap jenis kelamin suatu individu. Dan faktor genetic adalah secara alami faktor genetiklah yang menentukan jenis kelamin suaru makhluk. Oleh karena bahan genetic terdapat dalam kromosom, maka perbedaan jenis kelamin ditentukan dalam susunan kromosom.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui data morphometrik dari semua ikan meliputi panjang total, panjang fork, panjang baku, dan bobot ikan yang berguna untuk hubungan kematangan gonad ikan sehingga dapat dengan mudah diidentifikasi antara ikan lele jantan dan ikan lele betina. Hal ini sesuai dengan literatur Mulfizar, dkk (2012) yang menyatakan bahwa Dalam biologi perikanan, hubungan panjang-berat ikan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Pengukuran panjang-berat ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa hubungan panjang-berat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi ikan atau individu tertentu.





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
           Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah:
1.      1. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui ciri seksual ikan jantan yaitu jika diurut tidak mengeluarkan telur, dan memiliki tester. Ciri seksual ikan betina yaitu jika diurut mengeluarkan telur, dan memiliki ovary.
2.      2. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara ikan jantan dan ikan betina dengan pengamatan secara visual. Yaitu ukuran tubuh jantan lebih besar sedangkan ukuran tubuh betina lebih kecil, bentuk tengkuk kepala pada ikan jantan menonjol sedangkan bentuk tengkuk kepala pada ikan betina kasar, warna tubuh ikan jantan hitam keputihan sedangkan warna tubuh ikan betina hitam.
3.      3. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perbedaan jenis kelamin suatu individu umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan dan faktor genetik.
4.      4. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui perbedaan antara gonad ikan jantan dan gonad ikan betina.
5.      5. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui data morphometrik ikan meliputi panjang total, panjang fork, panjang baku, dan bobot ikan dari semua ikan.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan dari praktikum yang telah dilakukan sebaiknya praktikan menggunakan sarung tangan agar tangan tetap bersih pada saat pembedahan ikan dan sebaiknya menggunakan jumlah ikan yang tidak terlalu banyak agar menghemat biaya praktikum.






1 komentar:

  1. PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

    menyediakan hormon B-Estradiol untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www TOKOPEDIA.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

    BalasHapus

 

Blogger news

Blogroll